Sunday, April 17, 2005

 

KOMUNIKASI DALAM TEORI KONFLIK

PENDAHULUAN
Suatu masalah dalam komunikasi pembangunan seringkali tidak dapat diselesaikan dengan satu kebijakan dari atas/pemerintah saja. Tapi diperlukan berbagai kebijakan secara simultan (agar sinergis) sehingga dengan demikian diperlukan suatu perlu koordinasi yang matang. Masalah koordinasi yang bila dilaksanakan tidak tepat inilah yang akan menyebabkan terjadinya suatu overlaping kebijakan yang tidak efektif (tidak tepat sasaran) dan efisien (sekedar menghabiskan anggaran). Disamping itu, tumpang tindih ini dapat menyebabkan suatu konflik kepentingan diantara yang mengeluarkan suatu kebijakan. Disisi lain, potensi konflik yang laten akan menjadi konflik terbuka diantara stakeholders.
Sebelum terjadinya suatu konflik terbuka yang disebabkan oleh suatu kebijakan pemerintah, pemerintah khususnya yang berada di daerah sangat perlu mempertimbangkan eksistensi dan peran manajemen konflik dalam setiap program pembangunan (komunikasi pembangunan). Ketidak terlibatan aspek manajemen konflik dalam kebijakan komunikasi pembangunan (pembangunan) seringkali akan terlihat adanya tumpah tindih program maupun kebijakan yang tidak komprehensif untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan itu sendiri.
Berkaitan dengan suatu kebijakan khususnya komunikasi pembangunan yang diambil pemerintah belum tentu dapat diterima semua kelompok masyarakat. Oleh karenanya, setiap komunikasi pembangunan harus memiliki argumentasi logis yang mendasari pengambilan keputusan tersebut. Pertimbangan keputusan komunikasi yang tidak logis dan tidak argumentatif akan memberi peluang interpretasi yang beragam. Dengan demikian bila semakin jauh alur komunikasi pembangunan yang terjadi tersebut akan semakin bias hasil yang terjadi.
Dengan adanya otonomi daerah, alur kebijakan komunikasi pembangunan menjadi sangat pendek. Pemerintah seyogyanya akan lebih mengetahuai tentang publik yang ada di wilayahnya. Pengetahuan yang pasti tentang “siapa publik” (Whom) komunikasi pembangunan yang akan disampaikan adalah yang sangat penting dalam rangka mempertanggung jawabkan secara akuntabilitas, responsiveness, transparansi dari suatu kebijakan komunikasi pembangunan.

PERSPEKTIF TEORI KONFLIK
Talcott Parson ( 1951 , 280-282), berpendapat bahwa konflik dalam suatu masyarakat sulit dihindari. Sehingga, konflik dalam kehidupan manusia sudah menjadi bagian yang melekat. Konflik menurut Parson adalah harapan dari hasil sebuah interpretasi dari norma-norma secara sempurna (menyeluruh) ke dalam pola-pola yang tidak menyenangkan dan dari sisi lain, konflik juga suatu bentuk interaksi dari bentuk ego dan meluas kepada sebuah pola-pola normative yang bisa berbentuk pemberontakan. (conflict may thus be present in the difficulty of living up both to the expectations of one alter who interprets a norm in the directions of a “perfectionist” compulsive conformity pattern, and those of another who is also in close interaction with ego, and who streches the same normative pattern to the verge of active rebellion, both of them expecting active reciprocation from ego).
Menurut Kartono (1991) konflik dapat diartikan sebagai oposisi, interaksi yang antagonis atau bertentangan, benturan antara bermacam-macan pilihan, perselisihan, kurang mufakat, pergesekan, perkelahian, perlawanan dengan senjata atau perang. Konflik adalah suatu kondisi yang bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Untuk itu, tidak perlu untuk menghindari atau menjauhinya. Karenanya, walaupun konflik bisa menjadi kondisi yang menguntungkan, pemahaman akan konflik tetap kita butuhkan sehingga ketika muncul konflik yang bersifat merusak dan mengganggu bisa mengatasinya. Menurut Miller dan Steinberg ada tiga asumsi mengenai konflik yaitu :
1. Konflik tidak dapat dielakkan, sifat alamiah dan tergantung dari hubungan yang terjadi (dalam masyarakat)
2. Konflik tidak mesti selalu buruk, justru ada konflik yang bermanfaat dalam suatu hubungan (dalam berkomunikasi)
3. Konflik muncul karena berbagai penyebab dan dalam berbagai bentuk, karenanya setiap konflik harus ditangani secara berbeda-beda.

Dalam masyarakat dikenal dua teori dalam perspektif pembangunan yaitu keteraturan dan konflik. Dua sudut pandangan tersebut berbeda. Pertama, bagi paham keteraturan mengenal konsep stabilitas, sedangkan bagi pandangan konflik adalah perubahan. Kedua, integrasi atau konsep kesatuan sedangkan bagi pandangan konflik adalah pertentangan. Ketiga, adanya koordinasi fungsi sedangkan d lain pihak disintegrasi. Keempat, adalah consensus (kesepakatan) sedangkan yang lain adalah pemaksaan (coercion) (Bursell : 1979)
Bagi Simmel, konflik tersebut melekat pada kehidupan sosial. Sebagaimana yang dinyatakan Croser, kemasyarakatan selalu melibatkan harmoni dan konflik, cinta dan benci. Dia melihat bahwa hubungan manusia dicirikan oleh dua muka (ambivalence). Pengaruh ide-ide ini, khususnya terbukti pada kerja Croser (1956 dan 1967). Croser membangun tesisnya atas tesis Simmel bahwa konflik tersebut adalah suatu bentuk kelembagaan yang tak seorangpun yang dapat mengakhirinya ( is a farm of socialisation and that no group can be entirely harmonious).
Menurut Simmel kaharmonisan tak bisa diakhiri di luar proses dan struktur. Dalam suatu kelompok sudah menjadi realitas bahwa ada keharmonisan dan ada ketidakharmonisan, ada yang bersatu dan ada yang tidak bersatu.
Menurut Croser (1956:31) dalam sebuah bentuk kelompok merupakan hasil dari proses faktor-faktor hubungan positif dan negatif dari kelompok. Konflik adalah suatu fungsi yang bekerjasama dengan fungsi sosial. Disini, tidak berfungsinya sesuatu adalah bagian penting dalam bentuk kelompok dan daya tahan dari kehidupan kelompok. ( Group formation is the result of both types of processes...both, potive, and negative” factors build group relation. Conflict as well as co-operation has sosial functions. For from being necesarily dysfunctional a certain degree of conflict is an essential element in group formation and the persistence of group life ). Croser secara khusus melihat bahwa fungsi konflik sosial, membangun suatu konsesi yang penting diantara hubungan konflik dan konteks kelembagaan dalam ketentuan stabilitas sistem sosial.
Menurut Carpenter & Kennedy (1988: 4-16) bahwa konflik dalam tataran kebijakan publik (komunikasi pembangunan) mempunyai beberapa indicator :
I. Kepentingan Jaringan Kerja Yang Kompleks (Complicated Network of Interets)
Dalam kondisi masyarakat kompleks (plural) jaringan kerja akan semakin menuntut spesialisasi dan profesionalisme. Implikasi dari pluralisme inilah potensi konflik dalam masyarakat menjadi sangat kuat. Oleh karena itu, dalam masyarakat modern sudah terjadi pembagian kerja yang spesifik. Semakin banyaknya kerja spesifik ini akan muncul kepentingan yang sulit diakomodasi oleh penentu kebijakan. Dalam kondisi seperti ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
Pertama, pentingnya sebuah partai. Dalam struktur pemerintahan dimanapun keberadaan partai merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia yang berada dalam lingkungan sebuah negara. Keberadaan partai ini dimungkinkan untuk mengakomodir kepentingan bukan hanya politik tetapi kehidupan bernegara yang lebih luas. Disisi lain, orang yang aktif dalam partai tersebut hampir sering atau terlalu gampang mengatas namakan rakyat. Sehingga publik dari suatu kebijakan menjadi bingung rakyat yang mana yang diklaim oleh aktifis partai, lebih-lebih partai yang sedang berkuasa atau mayoritas. Dalam kondisi seperti itu, potensi konflik yang sudah dimiliki masyarakat plural menjadi eksplisit dan menjadi sebuah permasalahan nyata.
Kedua, varying levels of expertise ( tingkat keahlian yang berbeda).Dalam masyarakat yang heterogen baik budaya, pendidikan maupun kemampuan sosial ekonomi sangat mungkin sekali terjadi suatu perbedaan kemampuan. Kondisi masyarakat seperti ini memberi kontribusi kedalam suatu suasana yang riskan terjadinya sebuah konflik. Berkaitan dengan itu Broeur (1981) berpendapat” That the perception of the current and furure importance of education goals correlated significantly with perception organizational climate”.
Ketiga, different farm of power (perbedaan bidang kekuasaan). Konflik dalam suatu struktur masyarakat dapat disebabkan oleh perbedaan kekuasaan yang dimiliki. Perbedaan ini dapat disalah gunakan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan untuk berbuat tidak adil terhadap mereka yang memiliki kekuasaannya lebih rendah, lebih-lebih kepada mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Sehubungan kondisi tersebut Blunt (1981) menyatakan “Finds higher level of subordinate motivation in situation where linkages between supervisor and subordinate exist as follows: (1) the supervisor has knowledge of the reward items that the subordinate values; (2) the supervisor has control over these reward items; (3) the supervisor defines appropriate work behavior for the subordinate to engage in; and (4) the subordinate expect to receive the valued reward after engaging in the defines behaviors.”
Keempat, differing decisions making procedures (prosedur pembuatan keputusan yang berbeda-beda). Dalam suatu proses pembangunan (terkait dengan komunikasi pembangunan) sering terjadi suatu konflik. Konflik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam proses pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah di negara kita. Realitas seperti ini, seringkali ditimbulkan oleh suatu prosedur pembuatan keputusan yang berbeda. Sehingga setiap stakeholder menanggapinya berbeda pula. Perbedaan inilah yang menyebabkan suatu kepentingan dominan akan terjadi. Cuming (1983) menyebutkan bahwa “Interpersonal effectiveness is seen as a key element in developing nonmanipulative uses of power. Suggestions, planning guides, and self-report measures are include. Sedangkan Crouter (1982) memberi penjelasan tentang hubungan antara kehidupan pribadi dengan partisipasi dalam suatu institusi. “The relationship between work and personal life in a factory involving worker participate ,management, finding that the extent to which work was seen to positively effect personal life was not correlated with the extent to which personal life was seen to enhance work.
Kelima, Unequel Accountibility (Akuntabilitas yang tidak memadai). Dalam kehidupan yang telah menggunakan teknologi tinggi suatu publik akan mudah mengakses terhadap apa yang menjadi perhatiannya. Begitu pula dalam kebijakan pembangunan, stakeholder akan menginginkan suatu yang dapat dipertanggung jawabkan. Apabila prosedur ini tidak dikedepankan akan menjadi sebuah potensi besar terjadinya konflik dalam masyarakat tersebut.

II. Procedures Not standardized (Prosedur Yang Tidak Standar)
Konflik yang terjadi dalam suatu wilayah pemerintahan seringkali disebabkan oleh perencanaan, maupun implementasi suatu kebijakan yang tidak melalui suatu prosedur yang sudah disepakati. Ketidak tepatan dalam mengambil suatu proses kebijakan ini dapat terjadi karena ;
1. no formal guidelines (Tidak ada petunjuk yang resmi)
Setiap pengambil keputusan seringkali mendapatkan situasi yang sangat dilematis. Dalam kondisi dilematis ini pejabat pengambil suatu keputusan (sebagai komunikator komunikasi pembangunan) bingung mencari keputusan mana yang harus dia ambil. Kekosongan aturan dalam situasi dilematis inilah potensial terjadinya konflik.
2. Influence of Government Rules and Regulations (Pengaruh Peraturan dan Regulasi Pemerintah). Dalam melaksanakan roda pemerintahan, seorang pengambil kebijakan komunikasi pembangunan harus melihat apa yang direncanakan dan apa yang diinginkan. Apabila rencana yang sudah disepakati dan apa yang inginkan tersebut tidak sesuai akan terjadi suatu konflik. Dalam hal ini regulasi dan deregulasi yang dikeluarkan pemerintah seringkali tidak konsisten.

ASAL TEORI KONFLIK SOSIAL
Baik Warsay (1975) maupun Rose (1980) melukiskan paradigma konflik social ini sebagai teori yang sebagiannya berasal dari pikiran-pikiran Marxis dan Neomarxis yang tersebar dalam tradisi sosiologi Eropa. Teori ini secara klasik menekankan pada pertentangan politik dalam kehidupan kelompok maupun organisasi. Kehidupan manusia dalam kelompok itu merupakan ujian terhadap sikap solidaritas yang menyatu, yang mulanya harus dicapai melalui pertentangan antara pelbagai kepentingan ide, nilai, ideology antar orang, antar kelompok dalam suatu organisasi, etnik, kebudayaan maupun masyarakat.
Pikiran-pikiran konflik social sering disebut sebagai paradigma Darwinisme social. Paham ini menekankan bahwa setiap masyarakat tidak selalu harus seimbang, malah seharusnya selalu terjadi konflik social untuk meraih kemajuan social.
Zastrow (1987) menegaskan pula bahwa perspektif konflik social memandang masyarakat yang selalu memiliki pertentangan kekuatan antar beragam kelompok social.
Sesuatu yang penting dalam suatu masyarakat seperti cita-cita, kekuasaan, pelayanan kesehatan, jasa pengangkutan misalnya yang harus diraih sewajarnya disepakati bersama pengaturannya. Namun kesepakatan itu harus diperoleh memalui pertarungan dalam mendapatkan sumber-sumber yang penting untuk kehidupan. Pertentangan itu bisa muncul dalam sikap seperti tidak setuju, peperangan dan kekerasan. Hanya dengan konflik social yang selalu terjadi maka distribusi sumber daya bagi anggota kelompok dapat dialkukan dengan baik.
Dalam hal meraih cara distribusi sumber itulah konflik berbeda dengan teori fungsionalisme structural. Kalau fungsionalisme menekankan pada sumbangan fungsi tertentu terhadap struktur maka dalam paradigma konflik membenarkan setiap orang meraih dan menetapkan satu kekuasaan mayoritas bersama sebagai aturan social yang mengaturnya.
Pikiran-pikiran konflik social itu sangat menarik dalam zamannya karena meruapakan alternative pada komitmen yang terlalu menekankan pada sumbangan aktifitas masyarakat demi kestabilan masyarakat. Para ahli, filsuf maupun ahli-ahli social pada umumnya membenarkan bahwa banyak sekali bukti-bukti dalam masyarakat di masa terlebih dahulu.
Pernyataan yang lebih jelas dari model konflik social dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf (1958) dengan memperbaiki isu yang diperdebatkan dengan menagjukan model suatu masyarakat yang dibentuk dan berubah atas dasar konflik. Sampai kini perdebatan tentang konflik terus berlangsung dengan menampilkan sejumlah hipotesis dan bahkan teori tentang proses-proses social yang khusus termasuk analisis komunikasi.
Secara ringkas model konflik social dibangun atas dasar beberapa asumsi yaitu :
1. setiap masyarakat terdiri atas penggolongan atau pengelompokan orang-orang yang mempunyai kepentingan yang berbeda satu dengan yang lainnya dengan sangat tajam.
2. semua komponen masyarakat menekankan pada upaya untuk melanjutkan kepentingan mereka sendiri lalu harus bersaing dengan kepentingan orang lain, atau menghindari kepentingan orang lain melalui perlawanan atau kompetisi.
3. setiap masyarakat yang telah diorganisasikan dengan baik sekalipun mempunyai pengalaman yang tetap terhadap adanya kepentingan bersama dipandang sebagai unsur pemeliharaan kepentingan bersama atau dengan kata lain konflik tetap berada dalam setiap masyarakat manapun
4. hasil proses dialektik dari kompetisi dan konflik kepentingan adalah perubahan suatu masyarakat yang tidak selalu stabil dan berubah-ubah.

Bagaimana hubungan model konflik social ini terhadap studi komunikasi ? Kita ambil contoh tentang studi komunikasi massa, maka komunikasi massa dalam masyarakat menurut pandangan model konflik social dapat diterangkan sebagai suatu lembaga kemasyarakatan yang beranggotakan orang-orang dengan kepentingan kelompok medianya berbeda dengan kelompok yang lain.
Sebagai komponen masyarakat maka setiap pengelompokkan orang dalam suatu media (organisasi media) yang satu bersaingan dengan kepentingan kelompok media yang lain melalui konflik, kompetisi secara bebas. Bahkan konflik dibenarkan pula dilakukan secara terbuka dengan kelompok/pemerintahan yang berkuasa sekalipun.
Pandangan konflik social juga percaya bahwa keberadaan pers yang sehat merupakan hasil dari suatu pengalaman perjalanan sejarahnya yang panjang karena telah melalui konflik-konflik itu konflik yang terjadi dalam medianya sendiri, maupun dengan kelompok media yang lainnya dan bahkan dengan pemerintah.
Pandangan inipun percaya bahwa masyarakat pun bisa stabil dan mempunyai dinamika karena adanya konflik yang selalu terjadi dalam masyarakatnya.
Dengan perkataan lain model konflik social mengemukakan suatu paradigma teoritikal dalam merumuskan konsep dan studi yang berhubungan dengan perubahan yang terjadi secara radikal baik dalam system komunikasi massa sendiri ataupun akibat bagi masyarakatnya.

Meskipun begitu konflik dalam masyarakat tetap mempunyai keuntungan, mengambil pendapat Allan Filley dalam Interpersonal Conflict Resolution konflik setidaknya memiliki empat nilai yaitu :
1. Dapat mengurangi kesempatan munculnya konflik yang lebih besar.
2. Dapat menggiring kita untuk mencari cara baru, informasi baru, dan cara pandang baru dalam menghadapi konflik.
3. Minimal secara kelompok akan meningkatkan kepaduan kelompok.
4. Konflik akan memberikan kesempatan bagi pelakunya untuk mengukur kemampuan atau kekuatannya.
Pendapat ini memang sangat erat kaitannya dengan konflik yang terjadi antarpribadi atau interpersonal communication tapi bisa diambil penjelasan untuk konflik yang lebih besar yaitu konflik dalam masyarakat.
Bahkan menurut Braiker dan Kelly (1979) konflik merupakan bagian dari proses tumbuhnya suatu hubungan, bila :
1. Konflik bisa mengilhami pelakunya untuk mengubah cara berpikir mereka ke arah yang inovatif dan menguntungkan.
2. Menambah komitmen dari masing-masing pihak pelaku konflik atau merasa lebih terikat.
3. Setelah konflik terselesaikan, masing-masing pihak akan menjadi lebih akrab.
4. Dari adanya konflik yang terjadi, para pelaku yang berhubungan berusaha untuk mengembangkan suatu aturan main untuk dapat menyelesaikan konflik yang terjadi di masa mendatang.
5. Sebagai sumbangan dalam komunikasi bahwa hubungan yang terjadi merupakan suatu hal yang unik, karenanya penyelesaian konflik dalam suatu hubungan sudah pasti berbeda dengan lawan komunikasinya.

Dalam melihat konflik ada tiga pendekatan yang bisa digunakan :
1. pendekatan tradisional dimana konflik itu sifatnya negatif, merusak/destruktif dan merugikan karenanya konflik itu harus dilenyapkan demi kerukunan dan harmoni hidup
2. pendekatan behavioral atau netral dimana konflik dilihat dari perbedaan kodrati masing-masing individu dan kelompok. Penghapusan terhadap perbedaan berarti penghapusan terhadap individu-individu atau kelompok masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain konflik hanya dirasionalisir
3. pendekatan modern atau interaksionalistis dimana pendekatan yang lebih positif dan aktif dilakukan. Mereka menyatakan bahwa konflik sebagai :
· penting dan perlu dalam kehidupan
· perangsang oposisi yang bisa saling saling berkompetisi
· upaya pengembangan manajemen konflik, menstimulirnya dan harus memecahkannya dengan bantuan manajemen konflik yang tepat
· manajemen konflik merupakan tanggung jawab pemimpin



Sumber-Sumber Konflik
Kelly menyebutkan bahwa penyebab masalah yang dapat ditemukan dalam factor-faktor structural yang akan menentukan situasi secara keseluruhan ada empat tingkatan yakni :
1. individu, sebagai hasil dari frustasi, stress dan segresi perorangan
2. kelompok, karena perbedaan dalam system nilai dan bahkan kepuasan terhadap kebutuhan individu
3. organisasi, karena tidak samanya pembagian hak kekuasaan dengan penghargaan antar tingkat dan fungsi
4. masyarakat, karena ketidak adilan antar golongan dan antar suku bangsa
Gaya kepemimpinan dalam suatu masyarakat juga dapat mempengaruhi munculnya sebuah masalah, demikian juga dengan perluasan teknologi dapat mempengaruhi peran individu terhadap kontribusinya dalam masyarakat.

Tahapan Konflik
Perkembangan suatu konflik menurut Coffey et al (1975) dalam Pace (1993) dimulai dari tahapan yang ringan sampai yang tinggi atau berat. Kesemua tahapan tersebut adalah :
1. keraguan dan kecurigaan mulai muncul ke permukaan, iklim kondusif merosot
2. persepsi kelompok terdistorsi atau terpolarisasi
3. keterpaduan dan perasaan yang berkaitan seperti kemarahan, ketertarikan, keakraban dan kepentingan dalam tiap kelompok meningkat
4. kepatuhan kepada norma kelompok dan konformitas juga meningkat dalam setiap kelompok
5. kelompok-kelompok mempersiapkan diri mereka sendiri bagi kepemimpinan dan pengarahan yang lebih otoritarian
6. perilaku memusuhi meningkat, hubungan komunikasi berkurang dan tanda-tanda lain kerenggangan hubungan antar kelompok menjadi tampak
7. pemisahan komplek sama-sama diharapkan dan setiap bentuk kerja sama yang positif berhenti

PENYELESAIAN KONFLIK
Menurut Amstrong (1995), untuk menyelesaikan masalah konflik harus di ambil tindakan berikut :
1. Kita harus hidup dengan damai, sasarannya adalah menghaluskan perbedaan dan menekankan dasar yang sama, orang-orang didorong untuk hidup bersama.
2. Kompromi, masalah diselesaikan dengan negosiasi atau penawaran dan tidak satupun pihak yang menang atau kalah.
3. Pemecahan masalah, usaha dilakukan untuk menemukan pemecahan yang benar terhadap masalah dan bukan hanya satu usaha merekomendasi sudut pandang yang berbeda.

Seni Mengelola Konflik :
1. Membuat standar penilaian
2. Menemukan masalah-masalah kontroversi dan konflik-konflik
3. Menganalisa situasi dan mengadakan evaluasi terhadap konflik
4. Memilih tindakan-tindakan yang tepat untuk melakukan koreksi terhadap penyimpangan dan kesalahan-kesalahan

Resolusi Konflik yang Dapat Dilakukan
1. Strategi semua atau tidak sama sekali, tipe pertama dimanifestasikan sebagai kekuasaan yang kasar, tipe kedua dengan kekuatan fisik, tipe ketiga mengikut sertakan kegagalan dalam menanggapi masalah, tipe keempat menggunakan peraturan mayoritas sebagai yang paling benar, tipe kelima menggunakan minoritas sebagai yang paling benar.
2. Strategi mutu, menurut Filey dalam Koehler (1985) adalah :
1. Berdasarkan pada asumsi bahwa sebagian lebih baik dari pada tidak sama sekali.
2. Melalui pendekatan segi pembayaran atau pengupahan
3. Menempatkan masalah pada kelompok netral
4. Menggunakan peraturan sebagai alat paksaan untuk menolak atau menerima.
3. Strategi pintu terbuka, menempatkan administrator, dimana anggota memiliki kesulitan dalam menghormati ketidaksetujuan dengan atasan.
4. Strategi parlemen, mendorong pendapat melalui koalisi kelompok dalam masyarakat agar semua mengatakan satu suara seperti yang dikehendaki.
5. Strategi keputusan rutin, meliputi pembuatan keputusan rutin atau diperhitungkan.
6. Strategi petunjuk. Bentuk dasar dari strategi ini adalah tidak mengajukan metode pertimbangan sebelumnya dari pemecahan masalah pada situasi konflik. Garis besar strategi keputusan petunjuk terdiri : struktur kelompok, peraturan kelompok, proses kelompok, gaya kelompok dan norma kelompok dalam masyarakat
7. Strategi negosiasi kelompok, kadangkala konflik didalam masyarakat bisa terjadi karena golongan yang dimotivasi oleh nilai logis dapat diterima tetapi dilakukan pada perilaku yang berbeda. Prosedur dan klimaks yang ada pada strategi ini adalah : struktur kelompok, tugas kelompok, proses kelompok, gaya kelompok, dan norma kelompok dalam masyarakat itu sendiri
PENUTUP
Terkait dalam pengelolaan konflik yang holistik dengan pelaksanaan komunikasi khususnya komunikasi pembangunan. Maka diperlukan pengetahuan dan pengelolaan yang komprehensif tentang potensi-potensi konflik dalam masyarakat. Beberapa hal yang dijadikan titik tekan : Pertama, perencana kebijakan komunikasi pembangunan akan mengetahui aspek-aspek yang menjadi barriers terhadap implementasi komunikasi pembangunan, khususnya potensi yang bisa menjadi pemicu konflik dalam dan antar masyarakat. Kedua, komunikator akan mengetahui secara jelas stakeholders dan kepentingannya terhadap komunikasi pembangunan yang akan dijalankan. Sehingga bisa diharapkan adanya komunikasi yang harmonis diantara masing-masing pelakunya. Ketiga, akan terjadi minimalisasi potensi konflik antar masyarakat di dalam melakukan sosialisasi rencana dan implementasi semua kebijakan termasuk komunikasi pembangunan.

PERAN KOMUNIKASI DALAM MENGELOLA POTENSI KONFLIK ANTAR ETNIS DI INDONESIA

Konflik merupakan dinamika dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, yang keberadaannya tidak dapat dihindari. Menurut Fisher et al. (2000) konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih yang memiliki atau yang merasa memiliki sasaran yang tidak sejalan.

Pengertian konflik harus dibedakan dengan pengertian kekerasan, jadi adanya konflik bisa memicu tindakan kekerasan, namun konflik tidak selalu berupa tindakan kekerasan. Pengertian kekerasan meliputi tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau system yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosial, lingkungan, dan atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh. Pada konflik yang didominasi tindakan kekerasan, maka hal tersebut lebih cenderung pada upaya destruktif.

Konflik bisa dinyatakan dengan cara yang berbeda-beda, dari gerakan non verbal yang halus hingga pertikaian habis-habisan, atau dari sinisme hingga kecaman verbal terbuka. Adanya konflik terkadang justru dapat memberikan manfaat dan menghasilkan situasi yang lebih baik untuk berbagai pihak, apabila konflik dapat diselesaikan tanpa kekerasan dan menghasilkan perubahan ke arah yang lebih positif. Pada dasarnya tanpa adanya konflik, bisa dibayangkan banyak orang akan menjadi ”kerdil” karena kurang stimulasi. Individu cenderung statis dan minim pengalaman sehingga kurang berkembang dalam pemikiran maupun aplikasi.

Konflik yang terjadi karena perbedaan perilaku maupun sasaran, dapat dibedakan menjadi empat macam, seperti tergambar pada empat kuadran sebagai berikut :


S A S A R A N
SEJALAN TIDAK SEJALAN
PER PERILAKU YANG SELARAS _____________________TANPA KONFLIK KONFLIK LATEN
ILAKU PERILAKU YANG BERTENTANGAN KONFLIK DI PERMUKAAN KONFLIK TERBUKA


Dari bagan diatas, kondisi tanpa konflik nampak lurus dan tenang, namun kreatifitas harus tetap dipelihara dan konflik yang muncul harus dikelola agar tidak menimbulkan gejolak. Sedangkan pada konflik laten, permasalahan yang potensial menjadi sumber konflik harus diangkat ke permukaan sehingga dapat ditangani sedini mungkin dengan teknik komunikasi yang tepat. Konflik di permukaan muncul hanya karena kesalahpahaman mengenai sasaran, sehingga dapat diatasi dengan mengintensifkan komunikasi. Untuk konflik terbuka, perlu tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan efek yang ditimbulkannya. Untuk kasus Kerusuhan Ambon, karena factor-faktor laten yang berpotensi menjadi penyebab konflik tidak dikenali dan dikelola secara dini, maka tercetuslah konflik terbuka yang memerlukan penyelesaian lebih rumit dan holistic.

Beberapa tahapan umum yang disarankan (Fisher et al., 2000) dalam menyelesaikan ketiga macam bentuk konflik diatas, secara global terkait dengan eskalasi konflik. Jadi semakin meningkatnya kekerasan dalam konflik, akan memperluas ruang lingkup penyelesaiannya. Apabila digambarkan dalam bentuk bagan sederhana, sebagai berikut :

MENINGKATNYA KEKERASAN
KONFLIK LATEN KONFLIK DIPERMUKAAN KONFLIK TERBUKA
PENCEGAHAN KONFLIK ###############
PENYELESAIAN KONFLIK ############ ##########
PENGELOLAANKONFLIK ########### ############
RESOLUSI KONFLIK ############
TRANSFORMASIKONFLIK ############# ############## ############


Tabel diatas menunjukkan macam konflik berdasarkan tingkat kekerasannya dan kaitannya dengan peningkatan ruang lingkup penyelesaiannya. Penjelasan dari pendekatan tersebut adalah :
v Pencegahan konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.
v Penyelesaian konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui suatu persetujuan damai.
v Pengelolaaan konflik, bertujuan membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat.
v Resolusi konflik, menangani sebab-sebab konflik dan beruaha membangun hubungan baru yang tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.
v Transformasi konflik, berusaha mengatasi sumber-sumber konflik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif di dalam konflik menjadi kekuatan sosial politik yang positif.

Indonesia sebagai negara yang multikultur dan multi etnis, menyimpan potensi konflik karena kondisi keragamannya. Potensi merupakan kemampuan yang belum muncul ke permukaan (tersembunyi). Apabila tidak disikapi secara hati-hati, potensi konflik tersebut bisa berubah menjadi konflik terbuka yang dapat menjadi sumber perpecahan bangsa. Potensi konflik bisa bersumber dari ketidak tahuan, kurang informasi, kesalahpahaman, disharmonisasi, dan disparitas dalam berbagai sector yang terjadi dalam suatu masyarakat.

Salah satu upaya dalam mengelola potensi konflik adalah dengan komunikasi yang intensif dari pemerintah, baik dalam tataran lokal maupun nasional, serta antar komponen masyarakat yang plural/majemuk di suatu daerah, sehingga hal-hal yang potensial memicu konflik dapat segera diidentifikasi, dilokalisir, dan diselesaikan sebelum menjadi eksplosi. Hal tersebut merupakan langkah preventif yang dinilai cukup efektif, karena dengan adanya otonomi, maka daerah tentu lebih mengenal tipe masyarakat setempat, karena rentang kendali pemerintahan yang relatif lebih pendek, sehingga memudahkan menyusun kiat komunikasi yang menyejukkan untuk rakyat di daerahnya.

Berbagai cara dan pola komunikasi dibentuk dan dipengaruhi oleh budaya, sehingga latar belakang budaya yang berbeda seringkali memunculkan pola komunikasi yang kurang dipahami oleh pihak lain, sehingga menyulut konflik antar budaya. Jadi dapat dipahami bahwa Indonesia yang memiliki beragam budaya, selain menjadi nilai tambah berupa sumber kekayaan batiniah, juga dapat menjadi sumber konflik yang mengundang keprihatinan. Meskipun merupakan tugas berat, kerukunan hidup diantara rakyat Indonesia harus terus dipupuk dengan upaya minimalisir konflik yang merusak, sehingga potensi SDM yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai modal dasar pembangunan.

Media massa sebagai saluran komunikasi, baik media cetak maupun media elektronik sangat besar peranannya dalam melestarikan kehidupan bermasyarakat yang harmonis. Dengan menyajikan berita yang bersifat humanis dan informative, serta menghindari berita bernada provokasi, maka akan tumbuh rasa kesatuan/kebangsaan dalam diri anggota masyarakat, yang pada gilirannya akan menimbulkan perasaan memiliki/integritas. Fenomena media sebagai pihak yang loyal position/berpihak kepada rakyat, terus berusaha ditumbuhkan, antara lain dengan sikap netral (non partisan), karena rasa tanggung jawabnya untuk menjaga editorial independency. Hal tersebut dapat menekan potensi konflik merusak, yang mungkin timbul diantara pihak-pihak yang berseberangan.

Menurut Daniel Sparringga (pengamat politik Unair), pemerintahan baru Presiden terpilih tahun 2004 harus mengadopsi wacana multikulturalisme untuk memperkuat integrasi bangsa. Wacana multikulturalisme memungkinkan kelompok-kelompok etnik dan budaya hidup berdampingan secara damai dalam prinsip ko-eksistensi dan pro-eksistensi, yakni menghormati budaya lain sekaligus memiliki kesadaran untuk ikut ambil bagian memecahkan masalah kelompok lain. Hal tersebut sekaligus merupakan upaya yang jitu untuk menghindari konflik. Dengan demikian, konflik antar kelompok etnis dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan.

Timbulnya berbagai konflik antar etnis, seperti di Ambon, Poso, dan Papua, merupakan salah satu bentuk kegagalan Indonesia dalam mengelola masyarakat yang majemuk. Maka dengan paham multikulturalisme, diharapkan dapat ditemukan suatu identitas lokal di tengah keragaman global. Bahkan dalam suatu kesempatan sarasehan, Daniel Sparringga menyarankan agar Presiden terpilih tahun 2004, nantinya memprioritaskan kunjungan ke daerah konflik, dengan catatan bukan sekedar kunjungan basa-basi namun harus dilanjutkan dengan proses pelembagaan berupa pembentukan meja (desk) khusus di bawah Presiden, yang bertugas untuk mengintegrasikan upaya damai di lokasi konflik.
Pada dasarnya konflik etnis yang terjadi di negara kita, secara global dipicu oleh suasana disharmonisasi dan kecemburuan yang dirasakan oleh suatu pihak terhadap pihak lain. Namun konflik umumnya bukan merupakan hasil tindakan atau kejadian yang berdiri sendiri. Berbagai penyebabnya terletak dalam susunan sosial, budaya, dan politik suatu masyarakat dan di ⨪⨪ pendatang yang berasal dari Sulawesi, Sumatera, dan Jawa serta keragaman agama yang dianut (Islam dan Kristen), ditambah dengan disparitas dalam status perekonomian antar golongan. Rupanya potensi konflik yang tersimpan dalam heterogenitas etnis dan agama tersebut, dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengail di air keruh. Akibatnya konflik terbuka tak dapat dielakkan, dimana tindakan anarkhis digunakan oleh kelompok tertentu sebagai alat mencari penyelesaian, namun hasilnya justru kerugian bersama berupa korban jiwa, material, dan immaterial.

Apabila dikaitkan dengan ilmu komunikasi, potensi konflik terbukti dapat dijembatani melalui komunikasi yang bersifat informative maupun persuasive, sehingga tidak berkembang menjadi eksplosi kekerasan yang merugikan rakyat maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya jurus komunikasi baru diupayakan, apabila potensi konflik sudah benar-benar menjadi konflik terbuka yang menelan korban. Padahal dengan menerapkan teknik komunikasi yang tepat, potensi konflik dapat dicegah dan dilokalisir agar tidak mengalami peningkatan eskalasi, dengan memberdayakan pemuka adat, pemuka agama, tokoh masyarakat baik formal maupun non formal.

Komunikasi dalam Perspektif Teori Konflik, memegang peranan yang sangat penting, karena kegiatan komunikasi merupakan salah satu upaya dalam mencegah, menyelesaikan, mengelola, resolusi, dan transformasi konflik. Apabila konflik sudah terlanjur merebak, maka komunikasi dapat dilakukan dengan lebih intensif, antara lain melalui cara-cara sebagai berikut :
v Menginvestigasi insiden yang terjadi melalui komunikasi intensif dengan pihak-pihak yang terlibat pertikaian;
v Mengontrol issue-isue atau rumor untuk memperbaiki kesalahpahaman dan laporan-laporan yang bersifat memfitnah, antara lain melalui himbauan kontrol media dan menahan diri untuk tidak memberikan statement yang menyulut emosi;
v Memfasilitasi dialog antara semua pihak yang terlibat pertikaian, agar terjadi komunikasi dua arah;
v Memberikan contoh tindakan solidaritas dengan melibatkan semua pihak yang bertikai, berupa langkah konkrit untuk saling membantu “lawan” konfliknya;
v Membangun keyakinan dan kepercayaan diantara pihak yang berkonflik melalui komunikasi persuasive;
v Mendorong rekonsiliasi/perdamaian antara pihak-pihak yang berkonflik;
v Meminta setiap pihak membuat kesepakatan tidak mengulangi insiden yang merugikan;
v Membantu penyembuhan luka fisik, emosional, psikologis, dan spiritualnya melalui perilaku simpati dan empati dari semua pihak yang berkonflik;
v Mengubah struktur dan system yang dinilai kurang sesuai di daerah konflik, sehingga nantinya terjadi perubahan sosial kearah yang lebih positif.

Konflik ada bukan untuk dihindari, namun untuk diselesaikan dengan tindakan nyata dan tepat sasaran. Beberapa langkah untuk mengelola konflik dapat dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut :
v Analisis konflik, yaitu suatu proses praktis untuk mengkaji dan memahami kenyataan konflik dari berbagai sudut pandang (Fisher et al., 2000).
v Strategi, yaitu serangkaian langkah yang saling terkait secara logis untuk menyelesaikan masalah, yang dapat diuji dan diubah sesuai dengan perkembangan situasi.
v Tindakan, yaitu upaya langsung maupun tidak langsung dalam menyelesaikan konflik.
v Proses belajar, yaitu proses evaluasi untuk merefleksi apa saja yang telah dikerjakan, sehingga kita dapat mengambil tindakan yang lebih bijaksana dan lebih efektif di masa depan.

Di dalam tiap tahapan tersebut diatas, kegiatan komunikasi terus dijalin antara mediator, maupun pihak-pihak yang melakukan pertikaian. Agar konflik yang sudah terjadi dapat diselesaikan secara tuntas, perlu langkah konkrit jangka pendek/menengah/panjang, yang mencakup bidang militer/keamanan, politik/konstitusi, ekonomi/sosial, psiko sosial, dan internasional.

Yang perlu diingat, bahwa dalam mengelola konflik, baik yang masih berupa potensi maupun yang sedang berlangsung, harus dipegang teguh budaya anti kekerasan. Karena dengan tindakan kekerasan, tidak akan dicapai hasil apapun, bahkan kemungkinan justru menuai penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain. Langkah dialog nampaknya merupakan komunikasi paling efektif untuk menghindari atau bahkan menghentikan konflik.

Timbulnya konflik, pada akhirnya akan memunculkan suatu perubahan, dalam skala mikro maupun makro, yang pada jangka waktu tertentu dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Perubahan sosial (social change) menurut Laur dalam Salim (2002) adalah perubahan sepanjang masa dalam hubungan antar individu, kelompok, budaya, dan masyarakat. Perubahan sosial merupakan suatu bentuk perubahan yang benar-benar menjadi keinginan organisme sosial dalam bentuknya yang alami. Namun konflik, terutama yang bersifat merusak bukanlah suatu pilihan menuju perubahan sosial, bagaimanapun sesuatu yang natural dan minim gejolak tentu menjadi pilihan (preferensi).
DAFTAR PUSTAKA
Beamont, P.B. 1993, Human resource Management Key Concept and Shills, Sage Publication, London
Blint, Barrie E. Organizational Leadership: An Analysis of Supervision-Subordinate Linkages Utilizing the Path-Goal Approach. Ph.D. Dissertation, Florida State University, 1981. DAI, Vol. 42, No. 11,
Brodeur, Raymond A., Jr. The Relationship of Organizational Structure, School Climate, and Role to the Perception of the Education Goals of the Commonwealth of Massachussetts, Ed.D. Dissertation, Boston University School of Education, 1981.
Burwell, Gibson, Gareth Morgan,. 1985, Sociological Paradigms and Organisational Analysis Element of the Sociology of Corporate Life, New Hampshire, Heineman Educational Book Inc.
Carpenter, Susan L. dan W.J.D. Kennedy, 1988, Managing Public Disputes A Practical Guide to Handly Conflict and Reaching Agreements. A join Publication in The Jossey-Boss Management Series The Jossey-Boss Public administration Series and The Jossey-Boss social and Behavioral Science Series. California, Londong.
Crouter, Ann C. Participate Work and Personal Life: A case Study of Their Reciprocal Effect. Ph.D. Dissertation, Cornell University, 1982. DAI Vol. 42
Hall, Richard H. 1974, Organization Structure and Process, Prentice Hall International London.
Kartono, K., 1991. Pemimpin dan Kepemimpinan : Apakah pemimpin abnormal itu? Rajawali Pers. Jakarta.
Koehler, J.W., K.W.E. Anatol, R.L.Applebaum. 1976. Organizational Communication: Behavioural Perspective. New York: Holt, Rinehart And Winston.
Muhammad, Arni, 1995. Komunikasi Organisasi. Bumi Aksara. Jakarta.
Pace . R. Wayne, Paules. Don. F.1998. Komunikasi Organisasi. Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Remaja Rosdakarya. Bandung..
La Rocco, James M. 1981. Group Influence on the Perception of Job Conditions. Dissertion, University of Michigan, DAI, vol. 42, No. 6, p. 2601-B.
Liliweri, Alo. 1991. Memahami Peran Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Luthan, Fred, 1997, Organizational Behaviour, Macgrau-Hill Inc, New York.
Parsons, Talcott. 1951, The Social System, New York, The Free Press.
Rogers, Everett M, 1985. Komunikasi dan Pembangunan, Jakarta, LP3ES
 

THORIQOT NAQSABANDIYYAH

A. Pendahuluan
Tarekat Naqsyabandiyah didirikan oleh Muhammad ibn Muhammad Baha'uddin al-Din al-Uwaisi al-Bukhari al- Naqsyabandi. Dia dilahirkan di sebuah desa bernama Hinduwan yang terletak beberapa kilometer dari Bukhara pada tahun 717 H (13-17 M). Desa itu kemudian disebut juga 'Arifan. Disinilah pula dia wafat dan dimakamkan pada tahun 791 H (1389 M). Vamberi memberitakan bahwa makamnya di Bukhara menjadi tempat ziarah terutama orang-orang dari Cina. Dia disebut "al-Uwaysi" karena sistem ajaran tasawufnya menyerupai ajaran Uwayis al-Qarni, sufi terkenal pada masa sahabat. Ada pula yang mengatakan bahwa gelar itu diberikan karena dia adalah keturunan tokoh sufi tersebut. Gelar "Al-Naqsyabandi" diberikan kepadanya karena dia pandai sekali memberi lukisan tentang kehidupan yang gaib-gaib kepada muridnya.
Sebagaimana Wali-wali Allah yang lain, Muhammad Bahauddin juga mempunyai cerita dan tanda-tanda kelahirannya yang aneh. Pada suatu hari, seorang Wali besar, Muhammad Baba Sammasi, berjalan melalui desa Arifan. Tatkala memasuki desa itu, dia berkata kepada teman-temannya:
“Bau yang harum kita cium sekarang ini, datangnya dari orang laki-laki yang akan lahir dalam desa ini”
Perkataan ini diucapkannya sebelum lahir Bahauddin. Pada kali yang lain dia menerangkan pula, bahwa bau yang harum itu telah bertambah semerbak, ucapan mana dikeluarkan tiga hari sebelum Bahauddin lahir.
Setelah Bahauddin lahir ia dihantarkan kepada Muhammad Baba tersebut, yang diterimanya dengan penerimaan yang penuh gembira, seraya berkata:
“Ini adalah anakku, dan baik saksikanlah kamu, bahawa aku menerimanya”
Tatkala ayah Bahauddin berdatang sembah, agar Amir Kulal tidak menyia-nyiakan anaknya, Amir Kulal berdiri dan sambil meletakkan tangannya ke atas dada bayi itu, ujarnya:
“Jika saya sia-siakan haknya, pendidikannya dan rawatan untukknya yang lembah lembut, bukanklah aku ini seorang manusia yang mempunyai makam dalam sejarah Bahauddin”
Syekh Bahauddin menerangkan kisahnya sebagai berikut:
Tatkala Syekh Muhammad Baba As-Samasi meninggal dunia, aku dibawa nenekku ke Samarkand, dan di situ aku dipertemukannya dengan seorang alim lagi saleh, meminta restu semoga aku didoakannya. Keberkatan mereka itu, alhamdulillah sudah kuperoleh. Kemudian aku dibawanya ke Bukhara dan aku dikahwinkan dengan seorang wanita. Tetapi aku tetap bermukim di Qasrul Arifan.
Pada suatu ketika, dengan inayah Allah, aku mendapat kiriman sebuah kopiah kerajaan yang biasa dipakai oleh pejabat-pejabat. Setelah mendapat kopiah itu, keadaanku makin baik, dan keinginanku untok bersahabat dengan Syekh Amir Kulal makin bergejolak dalam kalbuku.
Aku mendapat kabar, bahawa Syekh Muhammad Baba As Samasi telah memesankan kepada Sayid Kulal, supaya mengajari dan mendidikku dengan baik. Sayid Amir Kulal berjanji akan memenuhi amanah itu, dengan menegaskan bahwa jika pesan itu tidak dilaksanakan, maka dia bukanlah seorang yang amanah. Dan ternyata janjinya itu dipenuhinya.
Asal mulanya aku sedar dan bertaubat, ialah ketika pada suatu hari aku bersama seorang teman duduk dalam ruangan khalwat. Tatkala aku menoleh kepadanya, dia berkata: "Kini sudah tiba saatnya anda menghadapi semua dan menujukan perhatian kepada kami".
Ucapan itu terhujam sekali dalam jiwaku. Akupun segera meninggalkan rumah itu, lalu mandi dan mencuci pakaian di sebuah kamar mandi yang tidak jauh dari situ, dan sholat dua rakaat. Memang sejak lama aku ingin sholat seperti itu, tetapi belum dapat terlaksana.
Selanjutnya kata Syekh Bahauddin, "ketika aku mulai tertarik pada thariqat ini, orang bertanya kepadaku: "Bagaimana anda dapat masuk dalam thariqat ini? Aku menjawab: "Aku melaksanakan apa yang kuucapkan dan yang kukehendaki.
Orang itu berkata pula: "Memang, semua apa yang kita ucapkan, wajib dilaksanakan."
Aku pun berkata: "Aku belum sanggup mengamalkan semuanya, tetapi jika semua ucapanku itu menjadi kenyataan, maka aku akan meletakkan dua kakiku dalam thariqat ini. Dan jika ucapan itu tidak menjadi kenyataan, maka aku tidak akan memasukinya.
Ucapan itu diulang-ulanginya dua kali, kemudian teman sekhalwatku itu pun pergi. Kami berpisah Sesudah itu, aku merasa bagaikan berputus asa.
Setelah lewat 15 hari, dikatakan orang kepadaku: "Sesungguhnya apa yang anda inginkan itu, akan segera menjadi kenyataan."
Akupun berkata: "Aku ingin thariqat, yang setiap orang memasukinya, menduduki makam untuk sampai kepada Allah"
Pada permulaan bersuluk, pendirianku belum tetap. Aku sering mengunjungi kuburan dalam kota Bukhara. Pada suatu malam aku menziarahi kuburan Syekh Muhammad Wasi.
Disisinya kudapati sebuah lampu, yang minyaknya hampir habis. Sumbunya panjang, harus digoyang-goyang supaya rata kena minyak dan sinarnya terang. Dalam pada itu datang isyarat kepadaku supaya aku menziarahi kaburan Syekh Ahmad AI-Ajfariuli.
Tatkala aku sampai di situ? kudapati lampu seperti yang ada dikuburan Syekh Muhammad Wasi' tadi. Tiba-tiba dua orang yang tidak dikenal mendatangiku dan menyelipkan dua bilah pedang kepinggangku, menaikkanku ke atas belakang seekor himar, kemudian membawaku ke kuburan Syekh Muzdaakhan. Di situ pun aku melihat lampu seperti yang ada di dua kuburan sebelumnya.
Aku pun turun, mengambil posisi duduk menghadap kiblat Waktu itu aku merasa berada di alam ghaib. Tiba-tiba dinding sebelah arah kiblat itu, terbelah dan bersamaan dengan itu muncul sebuah Tempat duduk berbentuk mimbar. Diatasnya nampak duduk seorang Lelaki yang tampan dan berperawakan tegap, didepannya terdapat tabir
Di sekitar mimbar itu hadir sejumlah jamaah, diantaranya Syekh Muhammad Baba As-Samasi. Aku bertanya dalam hati, siapakah orang ini dan siapa pula yang ada disekelilingnya?
Seorang di antara mereka menjelaskan: "Adapun orang yang berperawakan tegap itu adalah Syekh Abdul Khaliq Al-Fajduani, dan yang mengelilinginya itu adalah khalifah-khalifahnya."
Diisyaratkannya kepadaku, dengan mengatakan: Ini Syekh Ahmad Shadiq, ini Syekh Aulia AI-Kabir, ini Syekh 'Arif Ar-Ribaukuri, ini Syekh Mahmud Al-Anjari Naquli, dan ini "Syekh Ar-Ramini."
Dan tatkala sampai kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi, orang itu berkata: "Dia sudah memberi sebuah kopiah kepadamu, kenalkah anda kepadanya?" Kenal, jawabku.
Kenanganku kembali ingat kepada kisah kopiah, yang sudah kulupakan sejak lama. Kemudian orang itu melanjutkan: "Kopiah itu kini berada dirumahmu. Berkat kopiah itu, Allah telah menyelamatkanmu dari cubaaan besar."


B. Belajar Tasawuf
Dalam usia 18 tahun Al-Naqsyabandi pergi ke Sammas yang terletak tiga mil dari Bukhara. Disini dia belajar tasawuf pada sufi besar bernama Muhammad Baba al-Sammasi (W.740 H./1340 M). Pada saat al-Sammasi akan wafat dia sempat mengangkat Al-Naqsyabandi menjadi khalifahnya. Setelah gurunya ini wafat, dia pergi ke Samarkand, sesudah itu ke Bukhara disana dia berkeluarga dan kembali pulang ke desa kelahirannya. Kemudian dia pergi lagi ke Nasaf untuk meneruskan studinya pada seorang khalifah Al- Sammasi, Amir Kulal (W.772 H./1371 M). Sesudah itu dia sempat pula tinggal di beberapa desa di Bukhara dan selama tujuh tahun belajar pada seorang khalifah Amir Kulal, 'Arif al-Dikkirani. Dia sempat pula bekerja pada Sultan Khalil di Samarkand selama 12 tahun. Ibnu Bathuthah memuji keadilan pemerintahan Sultan Khalil, yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Kemungkinan besar hal ini merupakan salah satu andil partisipasi Al-Naqshabandi dalam pemerintahannya.
Setelah kerajaan ini jatuh Al-Naqsyabandi kembali ke Zawartun untuk melakukan kehidupan sufi selama tujuh tahun. Pada tahun terakhir pada hayatnya dia kembali ke desa kelahirannya sampai hari wafatnya pada tahun 791 H (1389 M). Segala perbuatannya dikoleksi dengan baik oleh seorang muridnya yang setia, Salah ibn al-Mubarak yang mengumpulkannya dalam sebuah karya berjudul : Maqamat Sayyidina Syah Naqsyaban. Gelar "Syah" diberikan kepadanya dalam arti : pemimpin besar spiritual. Akan tetapi menurut Fakhr al-Din 'Ali ibn Husain, yang menulis suatu sejarah tarekat Naqsyabandiyah dalam bukunya Rasyahat 'Ain. Tarekat ini berpangkal dari Abu Ya'qub Yusuf al-Hamadani (W.535 H./1140 M). Dia seorang sufi yang hidup semasa dengan Syekh 'Abd al-Qadir al-Jaylani di Baghdad. Dialah yang mendorong al-Jaylani mulai berkhotbah di hadapan masyarakat. Al-Naqsyabandi adalah keturunan dari Hamadani tersebut.
Salah seorang khlaifah Yusuf al-Hamadani ialah 'Abd al-Khaliq Ghujdawani (W.1220 M) yang menyebarkan ajaran gurunya di daerah Tran Soxsania dengan cara yang disebut tariqati khwajagan yaitu cara khoja (guru). Dia menetapkan 8 prinsip yang kemudian dijadikan dasar tarekat Naqsyabandi. Karena itulah, tarekat Naqsyabandiyah sebelumnya juga disebut Tarekat Khwajagan. Dengan demikian terdapat tiga nama yang lekat dengan tarekat Naqsyabandiyah dari segi asal-usulnya yaitu : Abu Ya'qub Yusuf al-Hamadani, 'Abd al-Khaliq Ghujdawani dan Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi. Ketiga nama tersebut dihubungkan oleh sebuah silsilah tarekat sebagai berikut : Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi mengambil dari Amir Kulal, mengambil dari Muhammad Baba al-Sammasi mengambil dari 'Azizan 'Ali al-Ramitani mengambil dari Mahmud Faghnawi mengambil dari 'Arif Riwghari, mengambil dari Abd al- Khaliq al-Ghujdawani, mengambil dari Abu Ya'qub Yusuf al-Hamadani. Adapun dasar-dasar ajaran tarekat Naqsyabandiyah - sebagaimana dijelaskan Najm al-Din Amin al-Kurdi dalam kitabnya Tanwir al-Qulub-ialah pengamalan sebelas kata berbahasa Persi. Delapan diataranya berasal dari ajaran 'Abd al-Khaliq al-Ghujdawani (Khwajagan) dan tiga yang lain berasal dari ajaran Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi . Kedelapan ajaran Al-Ghujdawani tersebut ialah :
1. Husy dari dam (kesadaran dalam bernafas), Maksudnya pemeliharaan setiap nafas yang keluar masuk dari lupa kepada Allah sehingga hatinya selalu hadir bersama Allah dalam segala nafasnya.
2. Nazhar bart qadam (memperhatikan tiap langkah diri), Maksudnya setiap salik bila berjalan harus selalu melihat ke tempat kakinya melangkah dan bila ia duduk harus hanya melihat ke tempat depannya. Dia dilarang memperluas tempat pandangannya karena dikhawatirkan tidak mampu memelihara hatinya yang banyak diganggu oleh karena pandangannya.
3. Safat dar wathan (perjalanan mistik di dalam diri), Maksudnya setiap salik harus berpindah dari sifat-sifat manusia yang rendah kepada sifat-sifat malaikat yang utama.
4. Khalawat dar anjuman (kesendirian dalam keramaian), Maksudnya hati si salik harus selalu hadir bersama Allah dalam segala situasi, baik dia sendirian jauh dari mausia maupun sedang bergaul di tengah-tengah manusia banyak.
5. Yard kard (Peringatan kembali), Maksudnya selalu mengulangi zikir, baik zikir dengan nama zat (kalimat:Allah) maupun dengan zikir nafi-itsbat (kalimat : La ilaha illa Allah) hinga yang diingat selalu hadir.
6. Baz Kasyt (menjaga pemikiran sendiri), Maksudnya si salik kembali berzikir dengan nafi-itsbat setelah munajat dengan kalimat "Ilahi anta Maqshudi wa Ridhaka Mathlubi" karena dengan itu akan terwujudlah pandangan si salik dalam hatinya trehadap wujud segala makhluk.
7. Nikahdasyt (memperhatikan pemikiran sendiri), Maksudnya murid harus menjaga hatinya dari kemasukan segala lintasan godaan yang mengganggu meskipun hanya sejenak.
8. Yaddast (pemusatan perhatian kepada Allah), Maksudnya pengkonsntrasian segala perhatian penuh tanpa kata-kata tertuju kepada muyahadah terhadap cahaya-cahaya Zat Yang Esa. Hal ini tidak dapat terwujud tanpa lebih dahulu mengalami fana yang sempurna dan baqa yang sempurna.
Adapun ketiga ajaran dasar yang ditetapkan oleh Al-Naqsyabandi, ialah :
1. Wukuf Zamani, Maksudnya : Si salik setiap berlalu dua atau tiga jam dalam kehidupannya hendaklah dia memperhatikan : Apakah selama itu dia selalu ingat kepada Allah atau lupa. Bila ia selalu ingat, hendaklah dia bersyukur kepada Allah; bila dia lupa, maka hendaklah dia minta ampun dan kembali ingat kepada Allah.
2. Wukuf 'Adadi, Maksudnya : Si salik hendaklah selalu memelihara bilangan ganjil dalam berzikir nafi-itsbat, seperti 3,5,7 dan seterusnya.
3. Wuquf Qalbi, Maksudnya : keadaan hati si salik selalu hadir bersama Allah dalam arti tak ada sedikitpun peluang dalam hati untuk tertuju kepada selain Allah dan terlepas dari pengertian zikir. Sebenarnya terdapat beberapa ajaran tarekat Naqsyabandiyah yang berbeda secara diametral dari ajaran tarekat Qadiriyah dan tarekat-tarekat lainnya, misalnya : Naqsyabandiyah dalam berzikir mengutamakan zikir didalam hati (zikir khafi), sedang Qadiriyah mengutamakan zikir lisan (zikir jahar). Begitu pula Naqsyabandiyah mendahulukan "al-Jadzba" (memperoleh kontak kesadaran dengan Allah) daripada suluk (berjalan menuju Tuhan), sedangkan Qadiriyah, dan umumnya tarekat yang lain mendahulukan suluk daripada "al-Jadzba" karena yang disebut terakhir ini adalah fase akhir dari kegiatan tarekat. Karena itulah, Al-Naqsyabandiyah pernah berkata, "permulaan tarekat kita adalah fase akhir segala tarekat" keberbedaan tersebut hanya menegaskan keunikan masing-masing sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, yang masing-masing mempunyai dasar pegangan. Kiranya disini perlu juga dikemukakan salah satu pedoman tata-tata ber-zikir didalam hati menurut tarekat Naqsyabandiyah. Ada sebelas macam yang harus dikerjakan oleh seorang yang ber-zikir, yaitu :
1. Bersuci, yaitu mengambil air wudhu
2. Mengerjakan shalat dua raka'at
3. Menghadap ke kiblat di tempat yang sepi
4. Duduk tawarruk dengan kebalikan tawarruk dalam shalat, dengan duduk seperti ini dimaksudkan lebih tawadhuk dan lebih mengkonsentrasi perasaan.
5. Mengucap istighfar dengan maksud meminta ampun kepada Allah terhadap segala dosa yang pernah dikerjakan. Juga membayangkan bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi segala perbuatannya. Istighfar dibaca dengan menghadirkan maknanya sebanyak 5 kali, 15 atau 25 kali.
6. Membaca surat Al-Fatihah sekali dan surat Al-Ikhlas 3 kali dengan mengahdiahkan pahalanya kepada ruh Nabi Muhammad saw dan semua ruh-ruh semua syekh tarekat Naqsyabandiyah
7. Memejamkan kedua mata, mengatupkan kedua bibir, dan melekatkan ujung lidah ke langit-langit, maksudnya untuk memantapkan kekhusyukan dan menghindarkan datangnya lintasan dari penglihatan.
8. Rabithat al-qabr, maksudnya menaruh perhatian kepada datangnya maut. Caranya dengan membayangkan bahwa anda telah mati, lalu dimandikan, dikafani, dishalatkan lalu dibawa ke kubur, diletakan di lang lahat, ditinggalkan sendiri oleh keluarga dan teman dan anda sadar bahwa disaat itu tak ada yang memberi manfaat kecuali amal shalih.
9. Rabithat al-Mursyid, maksudnya mempertemukan hati murid dengan hati guru (syekh), mengingat rupa guru dalam imajinasinya meskipun dia tidak ada, menganggap hati gru sebagai pancuran yang kan mengalirkan limpahan karunia llahi kepada hati murid dan menharapkan trcurahnya barakah darinya. Syekh adalah washilah dan wasithah (perantara) untuk sampai kepada Allah.
10. Mengkonsentrasikan segala indera jasmani, memutus segala lintasan ke dalam hati dan mengarahkan segala potensi diri kepada Allah, seraya mengucapkan "Ilahi anta maqsuhudi wa ridhaka mathlubi" (Tuhanku, Engkau tujuanku dan ridho-Mu tuntutanku) sebanyak 3 kali, lalu diteruskan dengan zikir dengan nama zat (Allah didalam hati) Lafaz Allah mengalir didalam hati bersama maknanya bahwa Dia selau hadir melihat dan meliputi.
11. Menunggu berlalunya zikir sampai berhenti sebelum membuka kedua matanya. Bila diperlihatkan waktu itu suatu kegaiban (ghaybah) atau suatu kontak kesadaran dengan Allah (Jadzbah) maka zikir jangan dihentikan dulu pada saat itu.

D. Ajaran Naqsyabandiyah
Dengan keunikan ajarannya, tarekat Naqsyabandiyah banyak menarik minat umat Islam mengikutinya. Doktrinnya memberi harapan kepada setiap orang untuk bisa cepat memperoleh derajat kesufian yang tinggi dalam kehidupannya. Tidak saja dari kalangan awam yang banyak tertarik kepadanya, tetapi juga dari kalangan ulama dan penguasa yang menjadi anggotanya. Tidak heran kalau dalam sejarah perkembangannya, peranan Tarekat Naqsyabandiyah di bidang politik juga banyak ditemukan.
Pusat perkembangan tarekat Naqsyabandiyah pertama kali didaerah Asia tengah diduga sejak abad ke-12 sudah ada pemimpin Kashgar yang menjadi murid Ghujdawani (tokoh tarekat Khwajagan) sehingga orang-orang Naqsyabandiyah sudah berperan dalam perselisihan di Istana kerajaan Timurid. Dengan menjalin hubungan dengan serikat-serikat dagang dan para pedagang, tarekat ini bertambah kaya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya peran mereka dalam dalam sektor politik dan keagamaan di kerajaan Timurid. Apalagi setelah Nasir al-Din Ubaydullah al-Ahrar (1404-1490 M) memimpin tarekat ini, Asia Tengah hampir seluruhnya dikuasai oleh Naqsyabandiyah, Ubaydullah al-Ahrar adalah tokoh kedua setelah Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi dalam tarekat ini. Pada masa kepemimpinannya, tarekat Naqyabandiyah bisa meluas dari Asia Tengah ke daerah Turki dan India sehingga terdapat tiga cabang penyebarannya. Hubungannya dengan Abu Sa'id, pangeran mahkota Timurid, dan dengan Syibanid Ozbeg mempunyai arti penting dalam penyebaran Islam dan Naqsyabandiyah di wilayah Asia Tengah dan bagi peran politik.
Menurut Al-Ahrar, untuk mengabdi kepada negara perlu latihan kekuatan politik supaya penguasa dapat dikontrol, dan hukum Allah harus dapat dilaksanakan dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan kemajuan yang telah dicapai maka berdirilah pusat-pusat tarekat yang besar di beberapa kota/daerah, seperti : Samarkand, Merw, Khiva, Tashkent, Harat, Bukhara, Cina, Turkestan dan Khokand, Afganistan, Persia, Baluchistan dan India. Tarekat Naqsyabandiyah mulai masuk ke India pada masa pemerintahan Babur (W.1530 M) pendiri kerajaan Mughal. Pada masa pimpinan 'Ubaydullah Al-Ahrar, Yunus Khan Moghul, paman Babur yang tinggal di daerah pemukiman Mongol, sudah menjadi pengikut tarekat Naqsyabandiyah. Akan tetapi, cabang perkembangan tarekat Naqsyabandiyah baru berarti setelah Muhammad Baqi Billah (W.1603 M) bertempat tinggal di Delhi. Dia menerima tarekat dari Ahmad Amkangi, yang mengirimnya ke India dari Asia Tengah. Ahmad Amkangi menerima tarekat dari Darwisy Muhammad, yang menerima dari Muhammad al-Zahid, seorang murid 'Ubaydullah al-Harar.
Muhammad Baqi Billah sebagai tokoh tarekat Naqsyabandiyah berhasil menarik sejumlah pengikut tarekat yang berpegang teguh pada agama untuk menetang kebijaksanaan Sultan Akbar dalam masalah agama, yaitu pembentukan agama baru yang disebutnya Din Ilahi. Setelah Muhammad Baqi Billah, dalam kalangan tarekat Naqsyabandiyah terdapat dua golongan yang berbeda sekali. Pertama, golongan yang mengikuti garis tasawuf Wujudiyah (pantheistik) dijarkan oleh anaknya sendiri yaitu Husam al-Din Ahmad ibn Baqi Billah (W.1633 M), kedua, golongan yang fanatik tasawuf Sunni diajarkan oleh muridnya bernama Ahmad Faruqi Sirhindi (W.1642 M). Ahmad Sirhindi berperan besar dalam kehidupan keagamaan di India dan juga dalam batas tertentu dalam bidang politik. Dia seorang penulis yang produktif, yang telah melahirkan beberapa buku dan 534 surat (70 diantaranya dsitujukan kepada para pejabat di kerajaan Moghul).
Dalam menentang "Wsahdat al-wujud" yang diambil dari ajaran Ibn 'Arabi, dia mengemukakan ajaran "washdat al-syuhud" mengikuti pendapat Al-Samnani. Tulisannya sarat dengan pemikirannya yang brilyan sehingga dia digelari orang dengan "Mujaddid Alfi Tsani" (Pembaharu seribu tahun kedua Hijrah). Selain itu, ada lagi beberapa tokoh tarekat Naqsyabandiyah yang berperan di India, misalnya : Muhammad Ma'shum putra Ahmad Sirhindi yang membay'at Murad 'Ali al-Bukhari (W.1720 M), Penyebar tarekat Naqsyabandiyah di Syria ; Pir Muhammad Zubayr (W.1740 M) cicit Ahmad Sirhindi, yang membimbing mistik Muhammad Nasir 'Andalib; Nasir Sirhindi (W.1697 M) seorang penyair yang berpengaruh di India; Mir Dard (W.1758 M) putra Muhammad Nasir 'Andalib, seorang penyair sufi Naqsyabandi yang berpengaruh dan syah waliullah al-Dahlawi (W.1762 M) seorang pembela agama yang benar. Tokoh yang disebut terakhir ini cukup menarik dalam sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah secara keseluruhan. Al-Fahlawi selain sebagai tokoh seorang tarekat Naqsyabandiyah, dia juga dibay'at dalam tarekat Qadiriyah.
Dia juga dianggap seorang pembaharu pemikiran Islam di India abad ke-18 M. Pemikiran-pemikirannya menyibak banyak aspek ajaran agama dan berusaha memberikan jiwa pengabdian yang tingi kepada semua lapisan umat Islam. Diantara pemikirannya di bidang tasawuf, ialah usaha membuat syntesa antara ajaran syari'at dan tasawuf. Ide-idenya diteruskan oleh anaknya, Syah'Abd al-'Aziz (W.1824 M) dan selanjutnya oleh cicitnya Isma'il (W.1831 M) Ahmad Barelwi (W.1831 M) seorang muridnya yang setia, meneruskan ide syntesa Syah Waliullah di bidang tarekat. Dia berusaha mensyntesakan ketiga disiplin tarekat besar di India yaitu Qadiriyah, Khistiyah dan Naqsyabandiyah dan menyatukannya dengan unsur keempat yaitu pengalaman keagamaan berupa disiplin eksoterik menjadi suatu tarekat yang diberi nama Thariqat Muhammadiyah. Di daerah Syria dan Anatolia yang termasuk wilayah Daulat Otsmaniah, tarekat Naqsyabandiyah mulai menyebar dalam abad ke-17 M. Penyebaran tarekat ini dimotori oleh Murad ibn'Ali al-Bikhari, seorang propagandis Naqsyabandi yang besar.
Dia dilahirkan di Samarkand pada tahun 1640 M. Di India dia dibay'at oleh Muhammad Ma'shum, putra Ahmad Sirhindi. Dia menjadikan kota Damaskus menjadi pusat penyebaran tarekat Naqsyabandiyah untuk tanah Arab dan Anatolia. Banyak khlaifah yang sempat dibay'atnya. Dari tangannylah seorang tokoh sufi berbangsa Arab 'Abd al-Ghani al-Nablusi (W.1731 M) menjadi pengikut tarekat Naqsyabandiyah. Murad ibn 'Ali al-Bukhari wafat di Istambul pada tahun 1132 H (1720 M). Di kota suci Mekah, tarekat Naqsyabandiyah disebarkan oleh Taj al-Din ibn Zakariya (W.1050 H./1640 M di Mekah) seorang murid Muhammad Baqi Billah dari India. Dia berusaha menyebarkan informasi tentang tarekat Naqsyabandiyah dalam bahasa Arab. Kitab Nafahat al-Uns karya 'Abd al-Rahman Jami, penyair Naqsyabandi terkenal, dan kitab Rasyahat 'Ain al-Hayat karya 'Ali al-Kasyifi, penulis sejarah Naqsyabandi yang hebat, diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Dia sendiri menulis risalah tentang tarekat Naqsyabandiyah yang bersifat praktis.
Dia membay'at Ahmad Abu al-Wafa ibn 'Ujayl (W.1664 M) yang kemudian menjadi khalifah Naqsyabandiyah di Yaman. Kekhilafan Ibn 'Ujayl di Yaman kemudian diteruskan oleh anaknya, Abu al-Zain Musa 'Abd al-Baqi (W.1663 M). Kedua khalifah Naqsyabandiyah di Yaman inilah yang membay'at Ahmad al-Bana' ibn Muhammad al-Dimyathi (W.1127 H./1715 M) menjadi khalifah tarekat Naqsyabandiyah yang menyebarkan tarekat ini di Mesir. Di Turki, tarekat Naqsyabandiyah hidup subur di kota-kota. Pada tahun 1880-an tercatat ada 52 buah taqiyah Naqsyabandiyah di kota Istambul. Evliya Chelebi menulis bahwa di Turki ada du agolongan syekh tarekat yang besar, yaitu tarekat Khalwatiyah dan tarekat Naqsyabandiyah. Di Kurdistan, tokoh'tokoh Naqsyabandiyah berperan besar dalam pembentukan nasionalisme Kurdi. Dhiya al-Din Khalid (1192-1242 H./1778-1826 M) pemimpin tarekat Naqsyabandiyah di Damaskus sangat berhasil mempropagandakan tarekat ini di daerah Kurdistan.
Karena propagandanya, banyak pengikut Qadiriyah yang berpindah ke tarekat Naqsyabandiyah. Dalam pembentukan nasionalisme Kurdi, banyak tokoh Naqsyabandiyah yang berperan, diantaranya ; 'Abdullah, anak Mullah Shalih seorang yang terkemuka; Taj al-Din,khalifah Dhiya' al-Din Khalid; 'Abd al-Salim, anak Taj 'al-Din; dan Muhammad, cicit Taj 'al-Din. Pada abad ke-19 M, tarekat Naqsyabandiyah juga mempunyai pusat penyebarannya di kota suci Mekah, sebagaimana tarekat-tarekat besar lainnya. Menurut Trimingham, seorang syekh Naqsyabandiyah dari Minangkabau di bay'at di Mekah sekitar tahun 1845 (1840?). Snouck Hurgronje memberitakan bahwa pada masa itu (abad ke-19 M) di Mekah terdapat markas besar tarekat Naqsyabandiyah di kaki gunung Abu Qubays dibawah pimpinan Sulaiman Effendi, yang banyak mendapat pengikut di Turki, Hindia Belanda (Indonesia) dan bekas jajahan Inggris di daerah Melayu (Malaysia). Lewat tanah suci Mekah inilah, tarekat Naqsyabandiyah lebih luas lagi menyebar ke seluruh daerah, termasuk Indonesa, terutama melalui jama'ah haji yang selalu berdatangan setiap tahun. Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah sudah mengalami sejarahnya yang panjang di Dunia Islam. Sejak kelahirannya pada abad ke-7/8 H (12/13 M) sampai sekarang kedua tarekat tersebut merupakan dua tarekat yang besar di muka bumi, terutama di kalangan kaum Sunni. Lewat peranan yang dimainkan para tokoh pendiri, mursyid, khalifah dan propagandis, kedua tarekat tersebut dalam perkembangannya selama berabad-abad, diketahui betapa besar peranan kedua tarekat tersebut di berbagai bidang kehidupan.
Di bidang agama, peranannya tampak dalam penyiaran Agama Islam di kalangan non muslim, seperti terjadi di Asia Tengan dan dalam pemantapan pengamalan ajaran agama serta penghayatan spiritualnya di kalangan umat Islam sendiri. Di bidang politik, peranannya juga tampak dimana-mana, yang sebenarnya tak terlepas dari misinya memantapkan ajaran agama di semua lapisan masyarakat. Begitu pula peranannya di bidang kebudayaan cukup besar, terutama dalam memajukan sastra berbagai bahasa lewat sejumlah sufi penyair dan pujangga. Kedua tarekat ini berbeda dan masing-masing mempunyai keunikan. Namun, kemungkinan penggabungan keduanya menjadi satu tarekat dibawah seorang syekh (mursyid) dapat saja terjadi. Kemungkinan ini didasari oleh berbagai elemen ajarannya dan pengalaman dalam sejarah perkembangannya. Keluwesan ajaran Qadiriyah, yang memungkinkan seorang syekhnya mandiri dalam menentukan tarekat selanjutnya untuk dikembangkan tanpa terikat dengan syekh tarekatnya terdahulu, mengizinkan seorang syekh Qadiriyah untuk memodifikasi ajaran tarekat lainnya ke dalam tarekat baru yang mau dikembangkannya.
Keizinan inilah barangkali yang digunakan Syekh Akhmad Khatib al-Sambasi, seorang tokoh Qadiriyah di Mekah pada abad-19 M, untuk mengembangkan tarekatnya yang baru bernama "Thareqat Qadiriyah Wa al-Naqsyabandiyah". Sebagaimana dikembangkan murid-muridnya di Indonesia terutama di Jawa pada abad ke-19 M. Sebagai seorang syekh tarekat Qadiriyah, dia dibolehkan oleh tarekatnya untuk memodifikasi ajaran tarekat Naqsyabandiyah yang pada saat itu sedang dikembangkan oleh tokohnya Sulaiman Effendi di kota yang sama (Mekah). Mungkin dia tertarik terhadap "zikir khafi" Naqsyabandiyah yang kurang mendapat tempat di tarekat Qadiriyah. Mungkin pula, dia tertarik terhadap kemudahan ajaran tarekat Naqsyabandiyah dalam memungkinkan pengikutnya memperoleh derajat kesufian yang tinggi, denga mendahulukan "al-Jadzah" daripada "suluk", sebagaimana telah diuraikan. Mungkin pula ada faktor-faktor lainnya yang mendorongnya memodifikasi tarekat Naqsyabandiyah kedalam tarekatnya, Qadiriyah, sehingga menjadi satu tarekat denga nama baru "Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah". Dari segi pengalam sejarah, perkembangan penggabungan kedua tarekt tersebut juga tidak dimustahikan. Di atas telah diturunkan sebanyak 29 buah tarekat yang termasuk dalam kelompok tarekat Qadiriyah yang tersebar di berbagai negeri Islam.
Sebenarnya, setiap tarekat tersebut merupakan suatu tarekat hasil modifikasi tokoh pendirinya terhadap tarekat Qadiriyah dan ajaran-ajaran lainnya. Dilihat dari sisi ini, sebenarnya "Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah" yang diajarkan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi, boleh saja disebut "Tarekat Sambasiyah" yang juga berinduk kepada tarekat Qadiriyah. Namun, syekh yang 'alim ini tidak sampai berbuat demikian, mungkin karena tawadhu'nya, maka kedua nama tarekat inilah yang dirangkaikan menjadi nama tarekat yang diajarkan kepada muridnya yang berasal dari Indonesia. Begitu pula, dalam sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah-sebagaimana telah diuraikan-terdapat seorang tokoh yang dibay'at dalam kedua tarekat tersebut seperti Syah Waliullah al-Dahlawi di India. Usaha penggabungan beberapa ajaran tarekat termasuk tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah dalam satu tarekat baru, juga pernah terjadi di India, sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Ahmad Barewli. Dengan demikian apa yang dilakukan Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi terhadap tarekat Naqsyabandiyah, bukanlah hal yang baru dalam sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di Dunia Islam.

E. Silsilah
Silsilah tariqat Naqshbandi bermula daripada Khalifah – pengganti – Rasulullah (s.a.w) yang pertama iaitu, Abu Bakr Siddiq, sahabat yang paling rapat dan pengikut paling setia Rasulullah (s.a.w). Pewaris kepada beliau pula ialah Salman al-Farsi, dari Persia. Salman al-Farisi merupakan seorang sahabat yang sejak dai mudanya semasa di Persia, sentiasa mencari para ulama dan para‘ariffin’ (mereka yang arif tentang ilmu ketuhanan), lelaki mahupun wanita untuk menuntut ilmu daripada mereka, sehinggalah akhirnya beliau bertemu dengan orang yang dicari-carinya iaitu, Nabi dan Rasu pada zamannya, Muhammad sallallahu ‘alaihi wasalam. Pewaris kepada beliau pula ialah, Qassim bin Muhammad bin Abu Bakr, cucunda kepada Abu Bakr Siddiq, yang telah disebut diatas tadi. Seterusnya, rahsia amalan kesufian tariqat Naqshbandi ini pula diwarisi oleh Imam besar, Imam para ‘Ariffin’ dan Penunjuk Jalan Ketuhanan pada zamannya iaitu Jaf’ar as-Sadiq, orang yang Dipercayai. ! Beliau diakui sebagai Imam besar jalan ketuhanan oleh orang Islam yang berfahaman Sunni (ahlussunnah wal jama’ah) dan juga yang berfahaman Shi’a, Yahudi dan juga Kristian. Beliau merupakan generasi kelima keturunan Rasulullah (s.a.w) dan beliau mewarisi rahsia ilmu kesufian/ketuhanan ini daripada keluarga bondanya yang merupakan keturunan Abu Bakar dan juga daripada keluarga bapanya yang merupakan keturunan Nabi Muhammad melalui anak kesayangan baginda (s.a.w), Fatimah.
Bayazid al Bistami pula merupakan pewaris as-Sadiq didalam silsilah tariqat yang kaya dengan rahsia ilmu ketuhanan/kesufian ini. Datuk kepada Bayazid merupakan seorang majusi (penyembah api). Kehidupan zuhud yang menjadi amalan Bayazid tidak dapat ditandingi. Beliau merupakan ahli Sufi yang pertama yang mengutarakan konsep fana’un fillah (binasanya makhluk – sesungguhnya Allah jua yang wujud dan yang kekal).
Perkataan Naqshband, yang menjadi nama bagi tariqat ini berarti, ‘mengukir nama Allah didalam hati’. Sebab itulah, Imam tariqat ini dikenali sebagai Sultan Para Pengukir, yang masyhur bukan sahaja kerana merasai dan mengalami rasa dekatnya Allah dengan hambanya tapi juga kerana benar-benar dapat mengukir perkataan ‘Allah’pada dada nya. Ukiran perkataan ‘Allah’ dijumpai apabila beliau telah meninggal dunia, iaitu semasa pegurusan jenazah beliau. Karamah ini berlaku kerana beliau sentiasa berada didalam keadaan mengingati dan membasahkan lidah mereka dengan menyebut nama Tuhan yang Agung ‘Allah’. Kisah mengenai karamah beliau, rahmat tuhan kepadanya dan juga kata-kata puji-pujinya dan cintanya terhadap Tuhan, Keesaan Allah dan bekal untuk menyelami jalan menuju ke hadrat Allah s.w.t. banyak diperkatakan.
Silsilah Tarekat ini, mengandungi 40 imam-imam besar, yang bermula daripada Rasulullah (s.a.w) - kerana amalan, dzikir dan segala rahsia ketuhanan/kesufian tariqat ini diajari oleh Rasulullah (s.a.w) yang diwarisi turun temurun oleh imam-imam seterusnya. Pada setiap zaman terdapat satu imam yang merupakan Qutub dan Ghawth pada zaman tersebut. Imam-imam ini, mempunyai daya tarikan yang begitu kuat didalam 'mengajak' murid-muridnya ke hadrat Allah s.w.t. sehinggakan mereka akan datang dari jarak jauh hanya untuk berada dekat dengan imam-imam ini. Keupayaan ini untuk menggunakan kuasa kerohanian mereka tanpa sekatan masa dan ruang, merupakan penyebab berjuta-juta manusia mendekatkan diri mereka ke hadrat Allah s.w.t. - malah mungkin antara jutaan manusia itu tidak pun pernah bersua muka dengan Imam tadi.
Tariqat Naqshbandi mempunyai sejarah yang panjang iaitu silsilah pemimpin ataupun imam-imam besar bagi tariqat ini dapat dikesan sehingga ke Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, Khalifah Ar-Rasyidun yang pertama.Abu Bakar as-Siddiq menjadi pengganti pertama kepada Rasulullah (s.a.w) untuk memimpin Ummat Islam pada masa itu dan mengukuhkan rohani dan iman mereka. Firman Allah didalam Al-quran yang mulia
"...sedang dia salah seorang dari 2 orang ketika keduanya berada dalam gua,di waktu dia berkata kepada temannya,Janganlah kamu berdukacita sesungguhnya Allah beserta kita." (Al-Quran, 9:40)
Rasulullah (s.a.w) pernah memuji Abu Bakar as-Siddiq dengan sabdanya,"Dikala terbit atau terbenamnya matahari, sinarnya yang memancar itu, tidak pernah menyinar pada seorang yang lebih baik selain Abu Bakar melainkan para Nabi dan Rasul." (Tarikh al-Khulafa) Baginda (s.a.w) juga pernah bersabda,"Abu Bakar lebih utama daripada kamu bukan kerana banyaknya solat atau puasa beliau melainkan kerana sesuatu rahsia yang berakar umbi di dalam hatinya."(Manaqib as-Sahaba Imam Ahmad). Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda," Jika aku di kehendaki memilih teman yang kucintai,aku memilih Abu Bakr sebagai teman yang kucintai;tetapi dia adalah saudara dan sahabatku."(Sahih Muslim).
Tariqat Naqshbandi terbina asas dan rukunnya oleh 5 bintang yang bersinar diatas jalan Rasulullah (s.a.w) ini dan inilah yang merupakan ciri yang unik bagi tariqat ini yang membedakannya daripada tariqat lain. Lima bintang yang bersinar itu ialah Abu Bakr as-Siddiq,Salman Al-Farisi,Bayazid al-Bistami,Abdul Khaliq al-Ghujdawani dan Muhammad Bahauddin Uwaysi a-Bukhari yang lebih dikenali sebagai Shah Naqshband - Imam yang utama didalam tariqat ini.
Perkataan Naqshband berasal daripada dua cetusan ide : naqsh yang bermaksud "ukiran" dan ini diertikan sebagai mengukir nama Tuhan pada hati dan band pula bermaksud "ikatan" yang menunjukkan ikatan antara insan dan Penciptanya. Oleh itu ini bermakna Tariqat Naqshbandi mengajak murid-muridnya lelaki ataupun perempuan, agar melakukan solat dan menunaikan perkara yang wajib mengikut Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (s.a.w) dan kehidupan para sahabat berserta dengan sifat Ihsan. Agar terus bermujahadah dan dapat merasakan kehadiran Allah dan perasaan cinta kepada Allah didalam hati murid-murid tadi dan seterusnya terjalinlah ikatan antara murid dengan Penciptanya.

Salman al-Farisi
Selain daripada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq siapakah lagi bintang yang bersinar di dalam tariqat warisan Rasulullah (s.a.w) ini? Salah seorang daripada mereka ialah Salman al-Farisi.Beliau berasal daripada Ispahan, sebuah bandar di Persia. Didalam sejarah, beliau adalah sahabat yang bertanggungjawab memberikan cadangan pembinaan parit kepada ummat Islam ketika menghadapi para Musyrikin semasa peperangan Ahzab.Cadangan ini telah dapat mengelakkan korban jiwa yang banyak dan seterusnya membawa kepada perdamaian dalam waktu yang singkat. Setelah baginda Rasulullah (s.a.w) wafat, beliau berpindah ke al-Madain, ibu negara Persia ketika itu. Ia diangakat menjadi Putera dan gabenor kota tersebut. Beliau terus menetap di kota tersebut hingga ke mangkatannya.

Bayazid Tayfur al-Bistami (q)
Seorang lagi bintang yang menyinari tariqat ini ialah Bayazid Tayfur al-Bistami. Datuk beliau merupakan seorang penganut agama Majusi. Bayazid mendalami 'ilmu shariah dan mengamalkan kehidupan yang amat zuhud. Sepanjang hidupnya dia amat tekun dan bersungguh-sungguh didalam mengamalkan segala suruhan agama. Dia mengajar murid-muridnya agar menyerahkan segala usaha mereka, di dalam tangan Allah. Dia juga menggalakkan murid-muridnya untuk mengamalkan ajaran Tauhid yang benar dan suci dengan penuh keikhlasan.
Doktrin Ketauhidan Bayazid al Bistami
Lima elemen utama terkandung di dalam doktrin ini iaitu: tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban didalam agama berlandaskan wahyu (Al-quran) dan As-sunnah Nabi Muhammad (s.a.w)[hadith dan cara hidup baginda], sentiasa berkata benar, jauhi hati daripada menyimpan perasaan benci, menjauhi makanan yang membahayakan diri dan menjauhi bida'ah. Bayazid berkata, matlamat utama para Sufi ialah untuk melihat Allah di alam akhirat kelak.Dia pernah berkata: " Terdapat hamba-hamba Allah yang istimewa disisiNya, akan memilih dan meminta untuk dikeluarkan daripada syurga dengan segera sebagaimana penghuni neraka meminta untuk disegerakan keluar daripada neraka, SEKIRANYA pandangan mereka ditutup daripada berpeluang untuk memandang Allah di syurga."

Abdul Khaliq al-Ghujduvani (q)
Seorang lagi bintang yang bersinar, didalam tariqat warisan Rasulullah (s.a.w) ini, ialah Abdul Khaliq al-Ghujduvani. Beliau dilahirkan di sebuah kampung bernama Ghujduvani, berdekatan dengan Bukhara - sekarang dikenali sebagai Uzbekistan dan disinilah beliau dibesarkan dan dikebumikan. Beliau mempelajari 'Ilmu Wahyu, 'Ilmu Tafsir, Usul Fiqh dan 'Ilmu Hadith daripada Shaykh Sadruddin. Setelah menguasai 'Ilmu Ketuhanan (Shari'ah) dia meneruskan pula pengajiannya kepada Jihaddun Nafs iaitu memerangi nafsu yang ada didalam diri setiap insan. Beliau berusaha bersungguh-sungguh memerangi nafsu diri yang rendah sehinggalah beliau berada dan sampai kepada maqam kesucian dan keikhlasan. Beliau kemudian bermusafir ke Damascus dan membuka sekolah yang telah melahirkan ramai anak-anak murid yang meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran Islam yang sebenar ke kawasan Asia Tengah dan juga Timur Tengah.
Abdul Khaliq menyambung kajian dan ajaran pemimpin tariqat sebelum beliau dengan mengumpulkan kaedah dzikr menurut sunnah Rasulullah (s.a.w).Didalam surat-suratnya beliau telah menulis tentang adab-adab yang perlu dipatuhi oleh setiap murid tariqat Naqshbandiyya. Antara kata-katanya," Wahai anakku, aku menyeru kamu supaya menuntut 'ilmu dan melakukan amalan saleh dan takutlah kamu kepada Allah. Ikutilah jejak orang-orang yang saleh dan bertaqwa yang datang sebelum kamu pada jalan kerohanian, berpeganglah pada jalan dan cara hidup Rasulullah (s.a.w), bersahabatlah dengan mukmin yang ikhlas dan jujur.Bacalah kitab-kitab Hukum Shariah dan Usul Fiqh, pelajarilah 'ilmu hadith,'ilmu tafsir, jauhilah mereka yang menipu didalam agama dan tetaplah solat berjamaah. Berhati-hati terhadap bahaya kemasyhuran. Duduklah bersama-sama orang-orang biasa dan janganlah kamu meminta-minta jawatan."

Shah Naqshband Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari (q)
Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari dikenali sebagai Shah Naqshband, Imam Tariqat Naqshbandi yang tiada tandingannya. Dilahirkan pada tahun 1317 masihi di sebuah kampung yang bernama Qasr al-Arifin terletak dekat dengan Bukhara. Dalam usia muda 18 tahun beliau telah mahir dan mempunyai pemahaman yang mendalam tentang 'Ilmu Shariah. Seterusnya beliau sentiasa bersama Shaykh Muhammad Baba as-Samasi, yang merupakan Imam al-Muhaddithin (ilmu hadith) di Asia Tengah pada zaman itu. Selepas kemangkatan beliau, Shah Naqshband bersama pula dengan Shaykh Amir Kulal. Shaykh Amir Kulal meneruskan dan menyempurnakan pendidikan Shah Naqshband didalam 'Ilmu al-Quran dan 'Ilmu adz-dzikr yang diwarisinya daripada Nabi Muhammad (s.a.w), Abu Bakr as-Siddiq, Salman al-Farisi sehinggalah ke zamannya.
Anak-anak murid Shaykh Amir Kulal biasa berdzikir dengan suara yang kuat semasa berdzikir beramai-ramai. Apabila berseorangan mereka berdzikir secara senyap. Shah Naqshband pernah berkata:
"Ada dua kaedah berdzikir iaitu yang kuat dan yang senyap. Saya memilih yang senyap kerana ia mempunyai kesan yang lebih mendalam." Kerana inilah, kaedah dzikir secara senyap merupakan ciri yang khusus bagi Tariqat Naqshbandiyya yang membezakannya daripada lain-lain tariqat. Walaupun Abu Bakr as-Siddiq dan Shah Naqshband memilih dan cenderung kepada kaedah dzikir secara senyap, mereka tidak pernah mengkritik kaedah dzikir secara kuat.
Shah Naqshband telah menunaikan fardhu haji sebanyak 3 kali. Selepas itu beliau menetap di Merv dan Bukhara. Di penghujung hidupnya dia kembali ke tempat kelahirannya, kota Qasr al-Arifin. Ajarannya menjadi buah mulut orang ramai dan dan namanya meniti dari bibir ke bibir. Pelawat daripada jauh datang untuk menziarahi dan belajar dan mendapatkan nasihat daripada beliau. Murid-muridnya menimba ilmu didalam madrasah dan masjid yang dapat memuatkan 5000 orang dalam satu-satu masa yang dibina oleh beliau. Madrasah ini merupakan pusat pengajian Islam yang terbesar di Asia Tengah. Bangunan ini terus berdiri tegak hingga sekarang walaupun telah melalui zaman pemerintahan Komunis selama 70 tahun. Sekarang kerajaan tempatan mula memperbaiki dan menjaga bangunan tersebut.
Ajaran Shah Naqshband telah memberi cahaya kedalam hati-hati murid-muridnya yang selama ini berada di dalam kegelapan. Beliau mengajar anak muridnya mengenai Keesaan Allah yang mana bidang ini menjadi bidang kepakaran Imam-imam Tariqat ini yang datang sebelum beliau. Beliau menekankan kepada anak muridnya tentang peri pentingnya untuk merealisasikan maqam al-Ihsan berdasarkan kepada hadith Rasulullah (s.a.w), "Ihsan ialah menyembah Allah seperti kita dapat melihatNya..."
Semasa beliau sakit di saat-saat penghujung hidupnya, beliau mengunci dirinya didalam sebuah bilik. Murid-muridnya datang menziarahi beliau tanpa henti-hentinya dan beliau memberi kepada mereka apa yang mereka perlukan. Pada satu ketika beliau telah menyuruh anak-anak muridnya membaca surah Yaasin. Setelah mereka selesai membacanya, beliau mengangkat tangan dan terus berdoa.Seterusnya beliau mengangkat jarinya sambil membaca kalimah syahadah. Setelah selesai membaca kalimah tersebut, ruh beliau pergi meninggalkan jasad untuk kembali ke hadrat ilahi,pada malam Isnin tahun 1388 masihi. Beliau dikebumikan didalam tamannya, seperti yang beliau wasiatkan. Raja-raja yang memerintah Bukahara selepas itu, menjaga serta membesarkan madrasah dan masjid yang telah beliau bina dan menambahkan jumlah wang waqaf bagi pemeliharaan dan kegunaan madrasah tersebut.
Shaykh-shaykh Tariqat Naqshbandi yang datang selepas Shah Naqshband telah banyak menulis tentang riwayat hidup beliau. Antaranya ialah Masoud al-Bukhari dan Sharif al-Jurjani yang menulis Risala Bahaiyya yang menerangkan secara terperinci mengenai kehidupan dan ajaran serta fatwa-fatwa yang telah di keluarkan oleh Shah Naqshband. Shaykh Muhammad Parsa yang meniggal di Madinah pada tahun 1419 menulis Risala Qudsiyya. Karya ini menceritakan mengenai kelebihan dan kesolehan serta ajaran-ajaran Shah Naqshband.
Banyak karya-karya yang telah ditinggalkan oleh Shah Naqsband untuk generasi selepas beliau. Antaranya termasuklah, al-Awrad al-Bahaiyya, Amalan-amalan Shah Naqshband, Tanbih al-Ghafilin Maslakul Anwar dan Hadiyyatus Salikin wa Tuhfat at-Talibeen. Dia juga telah menulis puji-pujian buat Rasulullah (s.a.w) dan mengeluarkan banyak fatwa pada zamannya. Antara pendapat beliau ialah, kesemua amalan dan kaedah penyembahan, samaada yang wajib ataupaun yang sunat, adalah dibenarkan untuk dilakukan bagi mencari dan mencapai haqiqat. Solat, puasa, zakat dan sedekah,berdzikir dan mnyebut nama-nama Allah, memerangi nafsu (mujahadatunnafs)dan kehidupan zuhud, merupakan kaedah-kaedah yang diutamakan agar seseorang murid itu, dapat sampai ke hadrat Ilahi. (Lihat 11 rukun Tariqat Nashbandi).
Shaykh Nazim al-Haqqani, Pemimpin Tariqat Naqshbandi pada masa ini, semasa menziarahi makam Shah Naqsband. Mufti Uzbekistan sedang memberi beliau segelas air daripada telaga air Shah Naqshband.
Shah Naqshband telah membina madrasah beliau untuk memperbaharui dan mengembalikan obor Islam bagi ummat Islam dizamannya untuk menghayati ajaran Islam sebagai cara hidup mereka. Beliau menekankan tentang pentingnya berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (s.a.w). Anak muridnya pernah bertanya kepada beliau:
"Apakah yang kami perlukan untuk mengikuti jalan Tuan?" Beliau menjawab, "Mematuhi dan menghayati jalan dan cara hidup Rasulullah (s.a.w) dengan penuh kecintaan."
Beliau menyambung lagi, "Jalan kita merupakan jalan yang jarang ditemui, kerana ia berpegang kepada Al-Urwatul Wuthqa, iaitu ikatan yang tidak boleh diputuskan. Jalan ini,tariqat ini hanya menghendaki pengikutnya, memegang pada jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah (s.a.w) - jalan yang suci lagi terpelihara - dan jalan yang dilalui oleh pengikut dan para sahabat baginda (s.a.w) di dalam perjuangan kita untuk menuju ke hadrat ilahi - mengenal hakihat ketuhanan."
Kehidupan Shah Naqshband amatlah zuhud. Beliau amat mementingkan kehalalan makan yang beliau makan. Beliau memakan roti daripada barli yang beliau tanam dan tuai sendiri. Beliau amat mencintai para fakir miskin dan selalu memasak dan melayan mereka serta menziarahi mereka apabila mereka sakit. Sebenarnya beliau seorang yang kaya dan suka membelanjakan hartanya semata-mata pada jalan Allah, bukan untuk diri atau keluarga. Sifat beliau yang pemurah itulah yang menyebabkan beliau amat dicintai dan sifat kedermawanannya sentiasa menjadi buah mulut orang ramai.
Shah Naqsband pernah berkata:
"Tariqat Naqshbandi ini, merupakan jalan yang paling mudah dan senang bagi seorang murid untuk memahami tentang Tauhid.Ia bebas daripada bida'ah ataupun sebarang peyimpangan dan perbuatan yang ekstrim (shaathiyyat) ataupun tarian dan sebutan yang sukar untuk difahami (sama'a). Ia tidak meminta muridnya untuk sentiasa berlapar ataupun berjaga sepanjang malam.Oleh kerana sifat-sifat inilah, Tariqat Naqshbandiyya tetap bebas daripada mereka yang jahil ataupun penipuan (mushawazeen). Kesimpulannya, kita pula mengatakan bahawa tariqat kita ini merupakan ibu bagi tariqat-tariqat lain dan penjaga amanah kerohanian. Jalan ini adalah jalan yang paling selamat, berhikmah, dan jelas. Ia umpama telaga air yang daripadanya dapat diminum air yang suci dan amat bersih. Sehingga kini Tariqat Naqshbandiyya bebas daripada ancaman ataupun serangan daripada mana-mana pihak keran ia berpegang teguh pada As-sunnah Rasulullah (s.a.w)- jalan yang terpelihara lagi diredhai.

SILSILAH TAREKAT NAQSYABANDIYAH :
1. MUHAMMAD RASULLULLAHHU ALAIHI WASSALAM PENGHULU
SELURUH ALAM.BELIAU MENUMPAHKAN RAHSIA INI KEPADA;
2.ABU BAKAR AS-SIDIQ RADIALLAHUAN.
3, SALMAN AL-FARISY RADIALAHHUAN KEMUDIAN KEPADA;
4. QASIM BIN MUHAMMAD B.ABU BAKAR AS-SIDIQ R.A,
5. IMAM JAAFAR SIDIQ R.A,
6. ABU YAZID BUSTAMI R.A,
7. ABU HASSAN KHARQANI R.A,
8. ABU ALI FRMADY R.A,
9. SHEIKH YUSUF HAMDANI QADASSALLAH,
10. SHEIKH ABD.KHALID FAJADUANI,Q.S
11. SHEIKH ARIF RIYAU GHARI Q.S,
12. SHEIKH MAHMUD ANJARI A.S,
13. SHEIKH ALI RAMATHANI Q.S,
14. SHEIKH MUHAMMAD BABUSSAMASI,
15. SHEIKH AMIR KULALI,
16..SHEIKH BAHAUDIN SHAH NAQSABANDI,
17. SHEIKH MUHAMMAD ALAUDDIN A'THARI,
18. SHEIKH YAAKUP CHARKI,
19..SHEIKH ABDULLAH AHRARI SAMAR QANDI,
20. SHEIKH MUHAMMAD ZAHIDI,
21. SHEIKH DARWIS MUHAMMAD,
22. SHEIKH MUHAMMAD KHAUJAKI AMKANAKI,
23. SHEIKH MUHAMMAD BAQI BILLAHI,
24. SHEIKH MUHAMMAD FARUQI SARHINDI,
25. SHEIKH MUHAMMAD MAKSOM,
26..SHEIKH SHAIFUDIN,
27..SHEIKH NUR MUHAMMAD BADAWANI,
28. SHEIKH SHAMSUDIN HABIBULLAH JAN JANANI,
29..SHEIKH ABDULLAH DAHLAWI,
30..SHEIKH MAULANA KHALID QARDI,LAHIR 1193 WAFAT 1239H,
31..SHEIKH ABDULLAH AFANDY,
32. SHEIKH SULAIMAN QARIMI,
33..SHEIKH SULAIMAN ZUHDI,MENETAP DI MAKKAH (JABAL QUBIS),
34.SHEIKH ABD WAHAB ROKAN AL-KHOLIDI,YANG MENETAP DI TANJUNG PURA (LANGKAT),SUMATERA UTARA,INDONESIA YANG MENYEBARKAN KE SELURUH ASIA.


DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. wali sufi jilid 2

This page is powered by Blogger. Isn't yours?