Sunday, April 17, 2005

 

THORIQOT NAQSABANDIYYAH

A. Pendahuluan
Tarekat Naqsyabandiyah didirikan oleh Muhammad ibn Muhammad Baha'uddin al-Din al-Uwaisi al-Bukhari al- Naqsyabandi. Dia dilahirkan di sebuah desa bernama Hinduwan yang terletak beberapa kilometer dari Bukhara pada tahun 717 H (13-17 M). Desa itu kemudian disebut juga 'Arifan. Disinilah pula dia wafat dan dimakamkan pada tahun 791 H (1389 M). Vamberi memberitakan bahwa makamnya di Bukhara menjadi tempat ziarah terutama orang-orang dari Cina. Dia disebut "al-Uwaysi" karena sistem ajaran tasawufnya menyerupai ajaran Uwayis al-Qarni, sufi terkenal pada masa sahabat. Ada pula yang mengatakan bahwa gelar itu diberikan karena dia adalah keturunan tokoh sufi tersebut. Gelar "Al-Naqsyabandi" diberikan kepadanya karena dia pandai sekali memberi lukisan tentang kehidupan yang gaib-gaib kepada muridnya.
Sebagaimana Wali-wali Allah yang lain, Muhammad Bahauddin juga mempunyai cerita dan tanda-tanda kelahirannya yang aneh. Pada suatu hari, seorang Wali besar, Muhammad Baba Sammasi, berjalan melalui desa Arifan. Tatkala memasuki desa itu, dia berkata kepada teman-temannya:
“Bau yang harum kita cium sekarang ini, datangnya dari orang laki-laki yang akan lahir dalam desa ini”
Perkataan ini diucapkannya sebelum lahir Bahauddin. Pada kali yang lain dia menerangkan pula, bahwa bau yang harum itu telah bertambah semerbak, ucapan mana dikeluarkan tiga hari sebelum Bahauddin lahir.
Setelah Bahauddin lahir ia dihantarkan kepada Muhammad Baba tersebut, yang diterimanya dengan penerimaan yang penuh gembira, seraya berkata:
“Ini adalah anakku, dan baik saksikanlah kamu, bahawa aku menerimanya”
Tatkala ayah Bahauddin berdatang sembah, agar Amir Kulal tidak menyia-nyiakan anaknya, Amir Kulal berdiri dan sambil meletakkan tangannya ke atas dada bayi itu, ujarnya:
“Jika saya sia-siakan haknya, pendidikannya dan rawatan untukknya yang lembah lembut, bukanklah aku ini seorang manusia yang mempunyai makam dalam sejarah Bahauddin”
Syekh Bahauddin menerangkan kisahnya sebagai berikut:
Tatkala Syekh Muhammad Baba As-Samasi meninggal dunia, aku dibawa nenekku ke Samarkand, dan di situ aku dipertemukannya dengan seorang alim lagi saleh, meminta restu semoga aku didoakannya. Keberkatan mereka itu, alhamdulillah sudah kuperoleh. Kemudian aku dibawanya ke Bukhara dan aku dikahwinkan dengan seorang wanita. Tetapi aku tetap bermukim di Qasrul Arifan.
Pada suatu ketika, dengan inayah Allah, aku mendapat kiriman sebuah kopiah kerajaan yang biasa dipakai oleh pejabat-pejabat. Setelah mendapat kopiah itu, keadaanku makin baik, dan keinginanku untok bersahabat dengan Syekh Amir Kulal makin bergejolak dalam kalbuku.
Aku mendapat kabar, bahawa Syekh Muhammad Baba As Samasi telah memesankan kepada Sayid Kulal, supaya mengajari dan mendidikku dengan baik. Sayid Amir Kulal berjanji akan memenuhi amanah itu, dengan menegaskan bahwa jika pesan itu tidak dilaksanakan, maka dia bukanlah seorang yang amanah. Dan ternyata janjinya itu dipenuhinya.
Asal mulanya aku sedar dan bertaubat, ialah ketika pada suatu hari aku bersama seorang teman duduk dalam ruangan khalwat. Tatkala aku menoleh kepadanya, dia berkata: "Kini sudah tiba saatnya anda menghadapi semua dan menujukan perhatian kepada kami".
Ucapan itu terhujam sekali dalam jiwaku. Akupun segera meninggalkan rumah itu, lalu mandi dan mencuci pakaian di sebuah kamar mandi yang tidak jauh dari situ, dan sholat dua rakaat. Memang sejak lama aku ingin sholat seperti itu, tetapi belum dapat terlaksana.
Selanjutnya kata Syekh Bahauddin, "ketika aku mulai tertarik pada thariqat ini, orang bertanya kepadaku: "Bagaimana anda dapat masuk dalam thariqat ini? Aku menjawab: "Aku melaksanakan apa yang kuucapkan dan yang kukehendaki.
Orang itu berkata pula: "Memang, semua apa yang kita ucapkan, wajib dilaksanakan."
Aku pun berkata: "Aku belum sanggup mengamalkan semuanya, tetapi jika semua ucapanku itu menjadi kenyataan, maka aku akan meletakkan dua kakiku dalam thariqat ini. Dan jika ucapan itu tidak menjadi kenyataan, maka aku tidak akan memasukinya.
Ucapan itu diulang-ulanginya dua kali, kemudian teman sekhalwatku itu pun pergi. Kami berpisah Sesudah itu, aku merasa bagaikan berputus asa.
Setelah lewat 15 hari, dikatakan orang kepadaku: "Sesungguhnya apa yang anda inginkan itu, akan segera menjadi kenyataan."
Akupun berkata: "Aku ingin thariqat, yang setiap orang memasukinya, menduduki makam untuk sampai kepada Allah"
Pada permulaan bersuluk, pendirianku belum tetap. Aku sering mengunjungi kuburan dalam kota Bukhara. Pada suatu malam aku menziarahi kuburan Syekh Muhammad Wasi.
Disisinya kudapati sebuah lampu, yang minyaknya hampir habis. Sumbunya panjang, harus digoyang-goyang supaya rata kena minyak dan sinarnya terang. Dalam pada itu datang isyarat kepadaku supaya aku menziarahi kaburan Syekh Ahmad AI-Ajfariuli.
Tatkala aku sampai di situ? kudapati lampu seperti yang ada dikuburan Syekh Muhammad Wasi' tadi. Tiba-tiba dua orang yang tidak dikenal mendatangiku dan menyelipkan dua bilah pedang kepinggangku, menaikkanku ke atas belakang seekor himar, kemudian membawaku ke kuburan Syekh Muzdaakhan. Di situ pun aku melihat lampu seperti yang ada di dua kuburan sebelumnya.
Aku pun turun, mengambil posisi duduk menghadap kiblat Waktu itu aku merasa berada di alam ghaib. Tiba-tiba dinding sebelah arah kiblat itu, terbelah dan bersamaan dengan itu muncul sebuah Tempat duduk berbentuk mimbar. Diatasnya nampak duduk seorang Lelaki yang tampan dan berperawakan tegap, didepannya terdapat tabir
Di sekitar mimbar itu hadir sejumlah jamaah, diantaranya Syekh Muhammad Baba As-Samasi. Aku bertanya dalam hati, siapakah orang ini dan siapa pula yang ada disekelilingnya?
Seorang di antara mereka menjelaskan: "Adapun orang yang berperawakan tegap itu adalah Syekh Abdul Khaliq Al-Fajduani, dan yang mengelilinginya itu adalah khalifah-khalifahnya."
Diisyaratkannya kepadaku, dengan mengatakan: Ini Syekh Ahmad Shadiq, ini Syekh Aulia AI-Kabir, ini Syekh 'Arif Ar-Ribaukuri, ini Syekh Mahmud Al-Anjari Naquli, dan ini "Syekh Ar-Ramini."
Dan tatkala sampai kepada Syekh Muhammad Baba As Samasi, orang itu berkata: "Dia sudah memberi sebuah kopiah kepadamu, kenalkah anda kepadanya?" Kenal, jawabku.
Kenanganku kembali ingat kepada kisah kopiah, yang sudah kulupakan sejak lama. Kemudian orang itu melanjutkan: "Kopiah itu kini berada dirumahmu. Berkat kopiah itu, Allah telah menyelamatkanmu dari cubaaan besar."


B. Belajar Tasawuf
Dalam usia 18 tahun Al-Naqsyabandi pergi ke Sammas yang terletak tiga mil dari Bukhara. Disini dia belajar tasawuf pada sufi besar bernama Muhammad Baba al-Sammasi (W.740 H./1340 M). Pada saat al-Sammasi akan wafat dia sempat mengangkat Al-Naqsyabandi menjadi khalifahnya. Setelah gurunya ini wafat, dia pergi ke Samarkand, sesudah itu ke Bukhara disana dia berkeluarga dan kembali pulang ke desa kelahirannya. Kemudian dia pergi lagi ke Nasaf untuk meneruskan studinya pada seorang khalifah Al- Sammasi, Amir Kulal (W.772 H./1371 M). Sesudah itu dia sempat pula tinggal di beberapa desa di Bukhara dan selama tujuh tahun belajar pada seorang khalifah Amir Kulal, 'Arif al-Dikkirani. Dia sempat pula bekerja pada Sultan Khalil di Samarkand selama 12 tahun. Ibnu Bathuthah memuji keadilan pemerintahan Sultan Khalil, yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Kemungkinan besar hal ini merupakan salah satu andil partisipasi Al-Naqshabandi dalam pemerintahannya.
Setelah kerajaan ini jatuh Al-Naqsyabandi kembali ke Zawartun untuk melakukan kehidupan sufi selama tujuh tahun. Pada tahun terakhir pada hayatnya dia kembali ke desa kelahirannya sampai hari wafatnya pada tahun 791 H (1389 M). Segala perbuatannya dikoleksi dengan baik oleh seorang muridnya yang setia, Salah ibn al-Mubarak yang mengumpulkannya dalam sebuah karya berjudul : Maqamat Sayyidina Syah Naqsyaban. Gelar "Syah" diberikan kepadanya dalam arti : pemimpin besar spiritual. Akan tetapi menurut Fakhr al-Din 'Ali ibn Husain, yang menulis suatu sejarah tarekat Naqsyabandiyah dalam bukunya Rasyahat 'Ain. Tarekat ini berpangkal dari Abu Ya'qub Yusuf al-Hamadani (W.535 H./1140 M). Dia seorang sufi yang hidup semasa dengan Syekh 'Abd al-Qadir al-Jaylani di Baghdad. Dialah yang mendorong al-Jaylani mulai berkhotbah di hadapan masyarakat. Al-Naqsyabandi adalah keturunan dari Hamadani tersebut.
Salah seorang khlaifah Yusuf al-Hamadani ialah 'Abd al-Khaliq Ghujdawani (W.1220 M) yang menyebarkan ajaran gurunya di daerah Tran Soxsania dengan cara yang disebut tariqati khwajagan yaitu cara khoja (guru). Dia menetapkan 8 prinsip yang kemudian dijadikan dasar tarekat Naqsyabandi. Karena itulah, tarekat Naqsyabandiyah sebelumnya juga disebut Tarekat Khwajagan. Dengan demikian terdapat tiga nama yang lekat dengan tarekat Naqsyabandiyah dari segi asal-usulnya yaitu : Abu Ya'qub Yusuf al-Hamadani, 'Abd al-Khaliq Ghujdawani dan Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi. Ketiga nama tersebut dihubungkan oleh sebuah silsilah tarekat sebagai berikut : Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi mengambil dari Amir Kulal, mengambil dari Muhammad Baba al-Sammasi mengambil dari 'Azizan 'Ali al-Ramitani mengambil dari Mahmud Faghnawi mengambil dari 'Arif Riwghari, mengambil dari Abd al- Khaliq al-Ghujdawani, mengambil dari Abu Ya'qub Yusuf al-Hamadani. Adapun dasar-dasar ajaran tarekat Naqsyabandiyah - sebagaimana dijelaskan Najm al-Din Amin al-Kurdi dalam kitabnya Tanwir al-Qulub-ialah pengamalan sebelas kata berbahasa Persi. Delapan diataranya berasal dari ajaran 'Abd al-Khaliq al-Ghujdawani (Khwajagan) dan tiga yang lain berasal dari ajaran Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi . Kedelapan ajaran Al-Ghujdawani tersebut ialah :
1. Husy dari dam (kesadaran dalam bernafas), Maksudnya pemeliharaan setiap nafas yang keluar masuk dari lupa kepada Allah sehingga hatinya selalu hadir bersama Allah dalam segala nafasnya.
2. Nazhar bart qadam (memperhatikan tiap langkah diri), Maksudnya setiap salik bila berjalan harus selalu melihat ke tempat kakinya melangkah dan bila ia duduk harus hanya melihat ke tempat depannya. Dia dilarang memperluas tempat pandangannya karena dikhawatirkan tidak mampu memelihara hatinya yang banyak diganggu oleh karena pandangannya.
3. Safat dar wathan (perjalanan mistik di dalam diri), Maksudnya setiap salik harus berpindah dari sifat-sifat manusia yang rendah kepada sifat-sifat malaikat yang utama.
4. Khalawat dar anjuman (kesendirian dalam keramaian), Maksudnya hati si salik harus selalu hadir bersama Allah dalam segala situasi, baik dia sendirian jauh dari mausia maupun sedang bergaul di tengah-tengah manusia banyak.
5. Yard kard (Peringatan kembali), Maksudnya selalu mengulangi zikir, baik zikir dengan nama zat (kalimat:Allah) maupun dengan zikir nafi-itsbat (kalimat : La ilaha illa Allah) hinga yang diingat selalu hadir.
6. Baz Kasyt (menjaga pemikiran sendiri), Maksudnya si salik kembali berzikir dengan nafi-itsbat setelah munajat dengan kalimat "Ilahi anta Maqshudi wa Ridhaka Mathlubi" karena dengan itu akan terwujudlah pandangan si salik dalam hatinya trehadap wujud segala makhluk.
7. Nikahdasyt (memperhatikan pemikiran sendiri), Maksudnya murid harus menjaga hatinya dari kemasukan segala lintasan godaan yang mengganggu meskipun hanya sejenak.
8. Yaddast (pemusatan perhatian kepada Allah), Maksudnya pengkonsntrasian segala perhatian penuh tanpa kata-kata tertuju kepada muyahadah terhadap cahaya-cahaya Zat Yang Esa. Hal ini tidak dapat terwujud tanpa lebih dahulu mengalami fana yang sempurna dan baqa yang sempurna.
Adapun ketiga ajaran dasar yang ditetapkan oleh Al-Naqsyabandi, ialah :
1. Wukuf Zamani, Maksudnya : Si salik setiap berlalu dua atau tiga jam dalam kehidupannya hendaklah dia memperhatikan : Apakah selama itu dia selalu ingat kepada Allah atau lupa. Bila ia selalu ingat, hendaklah dia bersyukur kepada Allah; bila dia lupa, maka hendaklah dia minta ampun dan kembali ingat kepada Allah.
2. Wukuf 'Adadi, Maksudnya : Si salik hendaklah selalu memelihara bilangan ganjil dalam berzikir nafi-itsbat, seperti 3,5,7 dan seterusnya.
3. Wuquf Qalbi, Maksudnya : keadaan hati si salik selalu hadir bersama Allah dalam arti tak ada sedikitpun peluang dalam hati untuk tertuju kepada selain Allah dan terlepas dari pengertian zikir. Sebenarnya terdapat beberapa ajaran tarekat Naqsyabandiyah yang berbeda secara diametral dari ajaran tarekat Qadiriyah dan tarekat-tarekat lainnya, misalnya : Naqsyabandiyah dalam berzikir mengutamakan zikir didalam hati (zikir khafi), sedang Qadiriyah mengutamakan zikir lisan (zikir jahar). Begitu pula Naqsyabandiyah mendahulukan "al-Jadzba" (memperoleh kontak kesadaran dengan Allah) daripada suluk (berjalan menuju Tuhan), sedangkan Qadiriyah, dan umumnya tarekat yang lain mendahulukan suluk daripada "al-Jadzba" karena yang disebut terakhir ini adalah fase akhir dari kegiatan tarekat. Karena itulah, Al-Naqsyabandiyah pernah berkata, "permulaan tarekat kita adalah fase akhir segala tarekat" keberbedaan tersebut hanya menegaskan keunikan masing-masing sebagai suatu mazhab dalam tasawuf, yang masing-masing mempunyai dasar pegangan. Kiranya disini perlu juga dikemukakan salah satu pedoman tata-tata ber-zikir didalam hati menurut tarekat Naqsyabandiyah. Ada sebelas macam yang harus dikerjakan oleh seorang yang ber-zikir, yaitu :
1. Bersuci, yaitu mengambil air wudhu
2. Mengerjakan shalat dua raka'at
3. Menghadap ke kiblat di tempat yang sepi
4. Duduk tawarruk dengan kebalikan tawarruk dalam shalat, dengan duduk seperti ini dimaksudkan lebih tawadhuk dan lebih mengkonsentrasi perasaan.
5. Mengucap istighfar dengan maksud meminta ampun kepada Allah terhadap segala dosa yang pernah dikerjakan. Juga membayangkan bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi segala perbuatannya. Istighfar dibaca dengan menghadirkan maknanya sebanyak 5 kali, 15 atau 25 kali.
6. Membaca surat Al-Fatihah sekali dan surat Al-Ikhlas 3 kali dengan mengahdiahkan pahalanya kepada ruh Nabi Muhammad saw dan semua ruh-ruh semua syekh tarekat Naqsyabandiyah
7. Memejamkan kedua mata, mengatupkan kedua bibir, dan melekatkan ujung lidah ke langit-langit, maksudnya untuk memantapkan kekhusyukan dan menghindarkan datangnya lintasan dari penglihatan.
8. Rabithat al-qabr, maksudnya menaruh perhatian kepada datangnya maut. Caranya dengan membayangkan bahwa anda telah mati, lalu dimandikan, dikafani, dishalatkan lalu dibawa ke kubur, diletakan di lang lahat, ditinggalkan sendiri oleh keluarga dan teman dan anda sadar bahwa disaat itu tak ada yang memberi manfaat kecuali amal shalih.
9. Rabithat al-Mursyid, maksudnya mempertemukan hati murid dengan hati guru (syekh), mengingat rupa guru dalam imajinasinya meskipun dia tidak ada, menganggap hati gru sebagai pancuran yang kan mengalirkan limpahan karunia llahi kepada hati murid dan menharapkan trcurahnya barakah darinya. Syekh adalah washilah dan wasithah (perantara) untuk sampai kepada Allah.
10. Mengkonsentrasikan segala indera jasmani, memutus segala lintasan ke dalam hati dan mengarahkan segala potensi diri kepada Allah, seraya mengucapkan "Ilahi anta maqsuhudi wa ridhaka mathlubi" (Tuhanku, Engkau tujuanku dan ridho-Mu tuntutanku) sebanyak 3 kali, lalu diteruskan dengan zikir dengan nama zat (Allah didalam hati) Lafaz Allah mengalir didalam hati bersama maknanya bahwa Dia selau hadir melihat dan meliputi.
11. Menunggu berlalunya zikir sampai berhenti sebelum membuka kedua matanya. Bila diperlihatkan waktu itu suatu kegaiban (ghaybah) atau suatu kontak kesadaran dengan Allah (Jadzbah) maka zikir jangan dihentikan dulu pada saat itu.

D. Ajaran Naqsyabandiyah
Dengan keunikan ajarannya, tarekat Naqsyabandiyah banyak menarik minat umat Islam mengikutinya. Doktrinnya memberi harapan kepada setiap orang untuk bisa cepat memperoleh derajat kesufian yang tinggi dalam kehidupannya. Tidak saja dari kalangan awam yang banyak tertarik kepadanya, tetapi juga dari kalangan ulama dan penguasa yang menjadi anggotanya. Tidak heran kalau dalam sejarah perkembangannya, peranan Tarekat Naqsyabandiyah di bidang politik juga banyak ditemukan.
Pusat perkembangan tarekat Naqsyabandiyah pertama kali didaerah Asia tengah diduga sejak abad ke-12 sudah ada pemimpin Kashgar yang menjadi murid Ghujdawani (tokoh tarekat Khwajagan) sehingga orang-orang Naqsyabandiyah sudah berperan dalam perselisihan di Istana kerajaan Timurid. Dengan menjalin hubungan dengan serikat-serikat dagang dan para pedagang, tarekat ini bertambah kaya. Hal ini sejalan dengan meningkatnya peran mereka dalam dalam sektor politik dan keagamaan di kerajaan Timurid. Apalagi setelah Nasir al-Din Ubaydullah al-Ahrar (1404-1490 M) memimpin tarekat ini, Asia Tengah hampir seluruhnya dikuasai oleh Naqsyabandiyah, Ubaydullah al-Ahrar adalah tokoh kedua setelah Muhammad Baha'u al-Din al-Naqsyabandi dalam tarekat ini. Pada masa kepemimpinannya, tarekat Naqyabandiyah bisa meluas dari Asia Tengah ke daerah Turki dan India sehingga terdapat tiga cabang penyebarannya. Hubungannya dengan Abu Sa'id, pangeran mahkota Timurid, dan dengan Syibanid Ozbeg mempunyai arti penting dalam penyebaran Islam dan Naqsyabandiyah di wilayah Asia Tengah dan bagi peran politik.
Menurut Al-Ahrar, untuk mengabdi kepada negara perlu latihan kekuatan politik supaya penguasa dapat dikontrol, dan hukum Allah harus dapat dilaksanakan dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan kemajuan yang telah dicapai maka berdirilah pusat-pusat tarekat yang besar di beberapa kota/daerah, seperti : Samarkand, Merw, Khiva, Tashkent, Harat, Bukhara, Cina, Turkestan dan Khokand, Afganistan, Persia, Baluchistan dan India. Tarekat Naqsyabandiyah mulai masuk ke India pada masa pemerintahan Babur (W.1530 M) pendiri kerajaan Mughal. Pada masa pimpinan 'Ubaydullah Al-Ahrar, Yunus Khan Moghul, paman Babur yang tinggal di daerah pemukiman Mongol, sudah menjadi pengikut tarekat Naqsyabandiyah. Akan tetapi, cabang perkembangan tarekat Naqsyabandiyah baru berarti setelah Muhammad Baqi Billah (W.1603 M) bertempat tinggal di Delhi. Dia menerima tarekat dari Ahmad Amkangi, yang mengirimnya ke India dari Asia Tengah. Ahmad Amkangi menerima tarekat dari Darwisy Muhammad, yang menerima dari Muhammad al-Zahid, seorang murid 'Ubaydullah al-Harar.
Muhammad Baqi Billah sebagai tokoh tarekat Naqsyabandiyah berhasil menarik sejumlah pengikut tarekat yang berpegang teguh pada agama untuk menetang kebijaksanaan Sultan Akbar dalam masalah agama, yaitu pembentukan agama baru yang disebutnya Din Ilahi. Setelah Muhammad Baqi Billah, dalam kalangan tarekat Naqsyabandiyah terdapat dua golongan yang berbeda sekali. Pertama, golongan yang mengikuti garis tasawuf Wujudiyah (pantheistik) dijarkan oleh anaknya sendiri yaitu Husam al-Din Ahmad ibn Baqi Billah (W.1633 M), kedua, golongan yang fanatik tasawuf Sunni diajarkan oleh muridnya bernama Ahmad Faruqi Sirhindi (W.1642 M). Ahmad Sirhindi berperan besar dalam kehidupan keagamaan di India dan juga dalam batas tertentu dalam bidang politik. Dia seorang penulis yang produktif, yang telah melahirkan beberapa buku dan 534 surat (70 diantaranya dsitujukan kepada para pejabat di kerajaan Moghul).
Dalam menentang "Wsahdat al-wujud" yang diambil dari ajaran Ibn 'Arabi, dia mengemukakan ajaran "washdat al-syuhud" mengikuti pendapat Al-Samnani. Tulisannya sarat dengan pemikirannya yang brilyan sehingga dia digelari orang dengan "Mujaddid Alfi Tsani" (Pembaharu seribu tahun kedua Hijrah). Selain itu, ada lagi beberapa tokoh tarekat Naqsyabandiyah yang berperan di India, misalnya : Muhammad Ma'shum putra Ahmad Sirhindi yang membay'at Murad 'Ali al-Bukhari (W.1720 M), Penyebar tarekat Naqsyabandiyah di Syria ; Pir Muhammad Zubayr (W.1740 M) cicit Ahmad Sirhindi, yang membimbing mistik Muhammad Nasir 'Andalib; Nasir Sirhindi (W.1697 M) seorang penyair yang berpengaruh di India; Mir Dard (W.1758 M) putra Muhammad Nasir 'Andalib, seorang penyair sufi Naqsyabandi yang berpengaruh dan syah waliullah al-Dahlawi (W.1762 M) seorang pembela agama yang benar. Tokoh yang disebut terakhir ini cukup menarik dalam sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah secara keseluruhan. Al-Fahlawi selain sebagai tokoh seorang tarekat Naqsyabandiyah, dia juga dibay'at dalam tarekat Qadiriyah.
Dia juga dianggap seorang pembaharu pemikiran Islam di India abad ke-18 M. Pemikiran-pemikirannya menyibak banyak aspek ajaran agama dan berusaha memberikan jiwa pengabdian yang tingi kepada semua lapisan umat Islam. Diantara pemikirannya di bidang tasawuf, ialah usaha membuat syntesa antara ajaran syari'at dan tasawuf. Ide-idenya diteruskan oleh anaknya, Syah'Abd al-'Aziz (W.1824 M) dan selanjutnya oleh cicitnya Isma'il (W.1831 M) Ahmad Barelwi (W.1831 M) seorang muridnya yang setia, meneruskan ide syntesa Syah Waliullah di bidang tarekat. Dia berusaha mensyntesakan ketiga disiplin tarekat besar di India yaitu Qadiriyah, Khistiyah dan Naqsyabandiyah dan menyatukannya dengan unsur keempat yaitu pengalaman keagamaan berupa disiplin eksoterik menjadi suatu tarekat yang diberi nama Thariqat Muhammadiyah. Di daerah Syria dan Anatolia yang termasuk wilayah Daulat Otsmaniah, tarekat Naqsyabandiyah mulai menyebar dalam abad ke-17 M. Penyebaran tarekat ini dimotori oleh Murad ibn'Ali al-Bikhari, seorang propagandis Naqsyabandi yang besar.
Dia dilahirkan di Samarkand pada tahun 1640 M. Di India dia dibay'at oleh Muhammad Ma'shum, putra Ahmad Sirhindi. Dia menjadikan kota Damaskus menjadi pusat penyebaran tarekat Naqsyabandiyah untuk tanah Arab dan Anatolia. Banyak khlaifah yang sempat dibay'atnya. Dari tangannylah seorang tokoh sufi berbangsa Arab 'Abd al-Ghani al-Nablusi (W.1731 M) menjadi pengikut tarekat Naqsyabandiyah. Murad ibn 'Ali al-Bukhari wafat di Istambul pada tahun 1132 H (1720 M). Di kota suci Mekah, tarekat Naqsyabandiyah disebarkan oleh Taj al-Din ibn Zakariya (W.1050 H./1640 M di Mekah) seorang murid Muhammad Baqi Billah dari India. Dia berusaha menyebarkan informasi tentang tarekat Naqsyabandiyah dalam bahasa Arab. Kitab Nafahat al-Uns karya 'Abd al-Rahman Jami, penyair Naqsyabandi terkenal, dan kitab Rasyahat 'Ain al-Hayat karya 'Ali al-Kasyifi, penulis sejarah Naqsyabandi yang hebat, diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Dia sendiri menulis risalah tentang tarekat Naqsyabandiyah yang bersifat praktis.
Dia membay'at Ahmad Abu al-Wafa ibn 'Ujayl (W.1664 M) yang kemudian menjadi khalifah Naqsyabandiyah di Yaman. Kekhilafan Ibn 'Ujayl di Yaman kemudian diteruskan oleh anaknya, Abu al-Zain Musa 'Abd al-Baqi (W.1663 M). Kedua khalifah Naqsyabandiyah di Yaman inilah yang membay'at Ahmad al-Bana' ibn Muhammad al-Dimyathi (W.1127 H./1715 M) menjadi khalifah tarekat Naqsyabandiyah yang menyebarkan tarekat ini di Mesir. Di Turki, tarekat Naqsyabandiyah hidup subur di kota-kota. Pada tahun 1880-an tercatat ada 52 buah taqiyah Naqsyabandiyah di kota Istambul. Evliya Chelebi menulis bahwa di Turki ada du agolongan syekh tarekat yang besar, yaitu tarekat Khalwatiyah dan tarekat Naqsyabandiyah. Di Kurdistan, tokoh'tokoh Naqsyabandiyah berperan besar dalam pembentukan nasionalisme Kurdi. Dhiya al-Din Khalid (1192-1242 H./1778-1826 M) pemimpin tarekat Naqsyabandiyah di Damaskus sangat berhasil mempropagandakan tarekat ini di daerah Kurdistan.
Karena propagandanya, banyak pengikut Qadiriyah yang berpindah ke tarekat Naqsyabandiyah. Dalam pembentukan nasionalisme Kurdi, banyak tokoh Naqsyabandiyah yang berperan, diantaranya ; 'Abdullah, anak Mullah Shalih seorang yang terkemuka; Taj al-Din,khalifah Dhiya' al-Din Khalid; 'Abd al-Salim, anak Taj 'al-Din; dan Muhammad, cicit Taj 'al-Din. Pada abad ke-19 M, tarekat Naqsyabandiyah juga mempunyai pusat penyebarannya di kota suci Mekah, sebagaimana tarekat-tarekat besar lainnya. Menurut Trimingham, seorang syekh Naqsyabandiyah dari Minangkabau di bay'at di Mekah sekitar tahun 1845 (1840?). Snouck Hurgronje memberitakan bahwa pada masa itu (abad ke-19 M) di Mekah terdapat markas besar tarekat Naqsyabandiyah di kaki gunung Abu Qubays dibawah pimpinan Sulaiman Effendi, yang banyak mendapat pengikut di Turki, Hindia Belanda (Indonesia) dan bekas jajahan Inggris di daerah Melayu (Malaysia). Lewat tanah suci Mekah inilah, tarekat Naqsyabandiyah lebih luas lagi menyebar ke seluruh daerah, termasuk Indonesa, terutama melalui jama'ah haji yang selalu berdatangan setiap tahun. Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah sudah mengalami sejarahnya yang panjang di Dunia Islam. Sejak kelahirannya pada abad ke-7/8 H (12/13 M) sampai sekarang kedua tarekat tersebut merupakan dua tarekat yang besar di muka bumi, terutama di kalangan kaum Sunni. Lewat peranan yang dimainkan para tokoh pendiri, mursyid, khalifah dan propagandis, kedua tarekat tersebut dalam perkembangannya selama berabad-abad, diketahui betapa besar peranan kedua tarekat tersebut di berbagai bidang kehidupan.
Di bidang agama, peranannya tampak dalam penyiaran Agama Islam di kalangan non muslim, seperti terjadi di Asia Tengan dan dalam pemantapan pengamalan ajaran agama serta penghayatan spiritualnya di kalangan umat Islam sendiri. Di bidang politik, peranannya juga tampak dimana-mana, yang sebenarnya tak terlepas dari misinya memantapkan ajaran agama di semua lapisan masyarakat. Begitu pula peranannya di bidang kebudayaan cukup besar, terutama dalam memajukan sastra berbagai bahasa lewat sejumlah sufi penyair dan pujangga. Kedua tarekat ini berbeda dan masing-masing mempunyai keunikan. Namun, kemungkinan penggabungan keduanya menjadi satu tarekat dibawah seorang syekh (mursyid) dapat saja terjadi. Kemungkinan ini didasari oleh berbagai elemen ajarannya dan pengalaman dalam sejarah perkembangannya. Keluwesan ajaran Qadiriyah, yang memungkinkan seorang syekhnya mandiri dalam menentukan tarekat selanjutnya untuk dikembangkan tanpa terikat dengan syekh tarekatnya terdahulu, mengizinkan seorang syekh Qadiriyah untuk memodifikasi ajaran tarekat lainnya ke dalam tarekat baru yang mau dikembangkannya.
Keizinan inilah barangkali yang digunakan Syekh Akhmad Khatib al-Sambasi, seorang tokoh Qadiriyah di Mekah pada abad-19 M, untuk mengembangkan tarekatnya yang baru bernama "Thareqat Qadiriyah Wa al-Naqsyabandiyah". Sebagaimana dikembangkan murid-muridnya di Indonesia terutama di Jawa pada abad ke-19 M. Sebagai seorang syekh tarekat Qadiriyah, dia dibolehkan oleh tarekatnya untuk memodifikasi ajaran tarekat Naqsyabandiyah yang pada saat itu sedang dikembangkan oleh tokohnya Sulaiman Effendi di kota yang sama (Mekah). Mungkin dia tertarik terhadap "zikir khafi" Naqsyabandiyah yang kurang mendapat tempat di tarekat Qadiriyah. Mungkin pula, dia tertarik terhadap kemudahan ajaran tarekat Naqsyabandiyah dalam memungkinkan pengikutnya memperoleh derajat kesufian yang tinggi, denga mendahulukan "al-Jadzah" daripada "suluk", sebagaimana telah diuraikan. Mungkin pula ada faktor-faktor lainnya yang mendorongnya memodifikasi tarekat Naqsyabandiyah kedalam tarekatnya, Qadiriyah, sehingga menjadi satu tarekat denga nama baru "Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah". Dari segi pengalam sejarah, perkembangan penggabungan kedua tarekt tersebut juga tidak dimustahikan. Di atas telah diturunkan sebanyak 29 buah tarekat yang termasuk dalam kelompok tarekat Qadiriyah yang tersebar di berbagai negeri Islam.
Sebenarnya, setiap tarekat tersebut merupakan suatu tarekat hasil modifikasi tokoh pendirinya terhadap tarekat Qadiriyah dan ajaran-ajaran lainnya. Dilihat dari sisi ini, sebenarnya "Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah" yang diajarkan oleh Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi, boleh saja disebut "Tarekat Sambasiyah" yang juga berinduk kepada tarekat Qadiriyah. Namun, syekh yang 'alim ini tidak sampai berbuat demikian, mungkin karena tawadhu'nya, maka kedua nama tarekat inilah yang dirangkaikan menjadi nama tarekat yang diajarkan kepada muridnya yang berasal dari Indonesia. Begitu pula, dalam sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah-sebagaimana telah diuraikan-terdapat seorang tokoh yang dibay'at dalam kedua tarekat tersebut seperti Syah Waliullah al-Dahlawi di India. Usaha penggabungan beberapa ajaran tarekat termasuk tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah dalam satu tarekat baru, juga pernah terjadi di India, sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Ahmad Barewli. Dengan demikian apa yang dilakukan Syekh Ahmad Khatib al-Sambasi terhadap tarekat Naqsyabandiyah, bukanlah hal yang baru dalam sejarah perkembangan tarekat Naqsyabandiyah di Dunia Islam.

E. Silsilah
Silsilah tariqat Naqshbandi bermula daripada Khalifah – pengganti – Rasulullah (s.a.w) yang pertama iaitu, Abu Bakr Siddiq, sahabat yang paling rapat dan pengikut paling setia Rasulullah (s.a.w). Pewaris kepada beliau pula ialah Salman al-Farsi, dari Persia. Salman al-Farisi merupakan seorang sahabat yang sejak dai mudanya semasa di Persia, sentiasa mencari para ulama dan para‘ariffin’ (mereka yang arif tentang ilmu ketuhanan), lelaki mahupun wanita untuk menuntut ilmu daripada mereka, sehinggalah akhirnya beliau bertemu dengan orang yang dicari-carinya iaitu, Nabi dan Rasu pada zamannya, Muhammad sallallahu ‘alaihi wasalam. Pewaris kepada beliau pula ialah, Qassim bin Muhammad bin Abu Bakr, cucunda kepada Abu Bakr Siddiq, yang telah disebut diatas tadi. Seterusnya, rahsia amalan kesufian tariqat Naqshbandi ini pula diwarisi oleh Imam besar, Imam para ‘Ariffin’ dan Penunjuk Jalan Ketuhanan pada zamannya iaitu Jaf’ar as-Sadiq, orang yang Dipercayai. ! Beliau diakui sebagai Imam besar jalan ketuhanan oleh orang Islam yang berfahaman Sunni (ahlussunnah wal jama’ah) dan juga yang berfahaman Shi’a, Yahudi dan juga Kristian. Beliau merupakan generasi kelima keturunan Rasulullah (s.a.w) dan beliau mewarisi rahsia ilmu kesufian/ketuhanan ini daripada keluarga bondanya yang merupakan keturunan Abu Bakar dan juga daripada keluarga bapanya yang merupakan keturunan Nabi Muhammad melalui anak kesayangan baginda (s.a.w), Fatimah.
Bayazid al Bistami pula merupakan pewaris as-Sadiq didalam silsilah tariqat yang kaya dengan rahsia ilmu ketuhanan/kesufian ini. Datuk kepada Bayazid merupakan seorang majusi (penyembah api). Kehidupan zuhud yang menjadi amalan Bayazid tidak dapat ditandingi. Beliau merupakan ahli Sufi yang pertama yang mengutarakan konsep fana’un fillah (binasanya makhluk – sesungguhnya Allah jua yang wujud dan yang kekal).
Perkataan Naqshband, yang menjadi nama bagi tariqat ini berarti, ‘mengukir nama Allah didalam hati’. Sebab itulah, Imam tariqat ini dikenali sebagai Sultan Para Pengukir, yang masyhur bukan sahaja kerana merasai dan mengalami rasa dekatnya Allah dengan hambanya tapi juga kerana benar-benar dapat mengukir perkataan ‘Allah’pada dada nya. Ukiran perkataan ‘Allah’ dijumpai apabila beliau telah meninggal dunia, iaitu semasa pegurusan jenazah beliau. Karamah ini berlaku kerana beliau sentiasa berada didalam keadaan mengingati dan membasahkan lidah mereka dengan menyebut nama Tuhan yang Agung ‘Allah’. Kisah mengenai karamah beliau, rahmat tuhan kepadanya dan juga kata-kata puji-pujinya dan cintanya terhadap Tuhan, Keesaan Allah dan bekal untuk menyelami jalan menuju ke hadrat Allah s.w.t. banyak diperkatakan.
Silsilah Tarekat ini, mengandungi 40 imam-imam besar, yang bermula daripada Rasulullah (s.a.w) - kerana amalan, dzikir dan segala rahsia ketuhanan/kesufian tariqat ini diajari oleh Rasulullah (s.a.w) yang diwarisi turun temurun oleh imam-imam seterusnya. Pada setiap zaman terdapat satu imam yang merupakan Qutub dan Ghawth pada zaman tersebut. Imam-imam ini, mempunyai daya tarikan yang begitu kuat didalam 'mengajak' murid-muridnya ke hadrat Allah s.w.t. sehinggakan mereka akan datang dari jarak jauh hanya untuk berada dekat dengan imam-imam ini. Keupayaan ini untuk menggunakan kuasa kerohanian mereka tanpa sekatan masa dan ruang, merupakan penyebab berjuta-juta manusia mendekatkan diri mereka ke hadrat Allah s.w.t. - malah mungkin antara jutaan manusia itu tidak pun pernah bersua muka dengan Imam tadi.
Tariqat Naqshbandi mempunyai sejarah yang panjang iaitu silsilah pemimpin ataupun imam-imam besar bagi tariqat ini dapat dikesan sehingga ke Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, Khalifah Ar-Rasyidun yang pertama.Abu Bakar as-Siddiq menjadi pengganti pertama kepada Rasulullah (s.a.w) untuk memimpin Ummat Islam pada masa itu dan mengukuhkan rohani dan iman mereka. Firman Allah didalam Al-quran yang mulia
"...sedang dia salah seorang dari 2 orang ketika keduanya berada dalam gua,di waktu dia berkata kepada temannya,Janganlah kamu berdukacita sesungguhnya Allah beserta kita." (Al-Quran, 9:40)
Rasulullah (s.a.w) pernah memuji Abu Bakar as-Siddiq dengan sabdanya,"Dikala terbit atau terbenamnya matahari, sinarnya yang memancar itu, tidak pernah menyinar pada seorang yang lebih baik selain Abu Bakar melainkan para Nabi dan Rasul." (Tarikh al-Khulafa) Baginda (s.a.w) juga pernah bersabda,"Abu Bakar lebih utama daripada kamu bukan kerana banyaknya solat atau puasa beliau melainkan kerana sesuatu rahsia yang berakar umbi di dalam hatinya."(Manaqib as-Sahaba Imam Ahmad). Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda," Jika aku di kehendaki memilih teman yang kucintai,aku memilih Abu Bakr sebagai teman yang kucintai;tetapi dia adalah saudara dan sahabatku."(Sahih Muslim).
Tariqat Naqshbandi terbina asas dan rukunnya oleh 5 bintang yang bersinar diatas jalan Rasulullah (s.a.w) ini dan inilah yang merupakan ciri yang unik bagi tariqat ini yang membedakannya daripada tariqat lain. Lima bintang yang bersinar itu ialah Abu Bakr as-Siddiq,Salman Al-Farisi,Bayazid al-Bistami,Abdul Khaliq al-Ghujdawani dan Muhammad Bahauddin Uwaysi a-Bukhari yang lebih dikenali sebagai Shah Naqshband - Imam yang utama didalam tariqat ini.
Perkataan Naqshband berasal daripada dua cetusan ide : naqsh yang bermaksud "ukiran" dan ini diertikan sebagai mengukir nama Tuhan pada hati dan band pula bermaksud "ikatan" yang menunjukkan ikatan antara insan dan Penciptanya. Oleh itu ini bermakna Tariqat Naqshbandi mengajak murid-muridnya lelaki ataupun perempuan, agar melakukan solat dan menunaikan perkara yang wajib mengikut Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (s.a.w) dan kehidupan para sahabat berserta dengan sifat Ihsan. Agar terus bermujahadah dan dapat merasakan kehadiran Allah dan perasaan cinta kepada Allah didalam hati murid-murid tadi dan seterusnya terjalinlah ikatan antara murid dengan Penciptanya.

Salman al-Farisi
Selain daripada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq siapakah lagi bintang yang bersinar di dalam tariqat warisan Rasulullah (s.a.w) ini? Salah seorang daripada mereka ialah Salman al-Farisi.Beliau berasal daripada Ispahan, sebuah bandar di Persia. Didalam sejarah, beliau adalah sahabat yang bertanggungjawab memberikan cadangan pembinaan parit kepada ummat Islam ketika menghadapi para Musyrikin semasa peperangan Ahzab.Cadangan ini telah dapat mengelakkan korban jiwa yang banyak dan seterusnya membawa kepada perdamaian dalam waktu yang singkat. Setelah baginda Rasulullah (s.a.w) wafat, beliau berpindah ke al-Madain, ibu negara Persia ketika itu. Ia diangakat menjadi Putera dan gabenor kota tersebut. Beliau terus menetap di kota tersebut hingga ke mangkatannya.

Bayazid Tayfur al-Bistami (q)
Seorang lagi bintang yang menyinari tariqat ini ialah Bayazid Tayfur al-Bistami. Datuk beliau merupakan seorang penganut agama Majusi. Bayazid mendalami 'ilmu shariah dan mengamalkan kehidupan yang amat zuhud. Sepanjang hidupnya dia amat tekun dan bersungguh-sungguh didalam mengamalkan segala suruhan agama. Dia mengajar murid-muridnya agar menyerahkan segala usaha mereka, di dalam tangan Allah. Dia juga menggalakkan murid-muridnya untuk mengamalkan ajaran Tauhid yang benar dan suci dengan penuh keikhlasan.
Doktrin Ketauhidan Bayazid al Bistami
Lima elemen utama terkandung di dalam doktrin ini iaitu: tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban didalam agama berlandaskan wahyu (Al-quran) dan As-sunnah Nabi Muhammad (s.a.w)[hadith dan cara hidup baginda], sentiasa berkata benar, jauhi hati daripada menyimpan perasaan benci, menjauhi makanan yang membahayakan diri dan menjauhi bida'ah. Bayazid berkata, matlamat utama para Sufi ialah untuk melihat Allah di alam akhirat kelak.Dia pernah berkata: " Terdapat hamba-hamba Allah yang istimewa disisiNya, akan memilih dan meminta untuk dikeluarkan daripada syurga dengan segera sebagaimana penghuni neraka meminta untuk disegerakan keluar daripada neraka, SEKIRANYA pandangan mereka ditutup daripada berpeluang untuk memandang Allah di syurga."

Abdul Khaliq al-Ghujduvani (q)
Seorang lagi bintang yang bersinar, didalam tariqat warisan Rasulullah (s.a.w) ini, ialah Abdul Khaliq al-Ghujduvani. Beliau dilahirkan di sebuah kampung bernama Ghujduvani, berdekatan dengan Bukhara - sekarang dikenali sebagai Uzbekistan dan disinilah beliau dibesarkan dan dikebumikan. Beliau mempelajari 'Ilmu Wahyu, 'Ilmu Tafsir, Usul Fiqh dan 'Ilmu Hadith daripada Shaykh Sadruddin. Setelah menguasai 'Ilmu Ketuhanan (Shari'ah) dia meneruskan pula pengajiannya kepada Jihaddun Nafs iaitu memerangi nafsu yang ada didalam diri setiap insan. Beliau berusaha bersungguh-sungguh memerangi nafsu diri yang rendah sehinggalah beliau berada dan sampai kepada maqam kesucian dan keikhlasan. Beliau kemudian bermusafir ke Damascus dan membuka sekolah yang telah melahirkan ramai anak-anak murid yang meneruskan perjuangan menyebarkan ajaran Islam yang sebenar ke kawasan Asia Tengah dan juga Timur Tengah.
Abdul Khaliq menyambung kajian dan ajaran pemimpin tariqat sebelum beliau dengan mengumpulkan kaedah dzikr menurut sunnah Rasulullah (s.a.w).Didalam surat-suratnya beliau telah menulis tentang adab-adab yang perlu dipatuhi oleh setiap murid tariqat Naqshbandiyya. Antara kata-katanya," Wahai anakku, aku menyeru kamu supaya menuntut 'ilmu dan melakukan amalan saleh dan takutlah kamu kepada Allah. Ikutilah jejak orang-orang yang saleh dan bertaqwa yang datang sebelum kamu pada jalan kerohanian, berpeganglah pada jalan dan cara hidup Rasulullah (s.a.w), bersahabatlah dengan mukmin yang ikhlas dan jujur.Bacalah kitab-kitab Hukum Shariah dan Usul Fiqh, pelajarilah 'ilmu hadith,'ilmu tafsir, jauhilah mereka yang menipu didalam agama dan tetaplah solat berjamaah. Berhati-hati terhadap bahaya kemasyhuran. Duduklah bersama-sama orang-orang biasa dan janganlah kamu meminta-minta jawatan."

Shah Naqshband Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari (q)
Muhammad Bahauddin Uways al-Bukhari dikenali sebagai Shah Naqshband, Imam Tariqat Naqshbandi yang tiada tandingannya. Dilahirkan pada tahun 1317 masihi di sebuah kampung yang bernama Qasr al-Arifin terletak dekat dengan Bukhara. Dalam usia muda 18 tahun beliau telah mahir dan mempunyai pemahaman yang mendalam tentang 'Ilmu Shariah. Seterusnya beliau sentiasa bersama Shaykh Muhammad Baba as-Samasi, yang merupakan Imam al-Muhaddithin (ilmu hadith) di Asia Tengah pada zaman itu. Selepas kemangkatan beliau, Shah Naqshband bersama pula dengan Shaykh Amir Kulal. Shaykh Amir Kulal meneruskan dan menyempurnakan pendidikan Shah Naqshband didalam 'Ilmu al-Quran dan 'Ilmu adz-dzikr yang diwarisinya daripada Nabi Muhammad (s.a.w), Abu Bakr as-Siddiq, Salman al-Farisi sehinggalah ke zamannya.
Anak-anak murid Shaykh Amir Kulal biasa berdzikir dengan suara yang kuat semasa berdzikir beramai-ramai. Apabila berseorangan mereka berdzikir secara senyap. Shah Naqshband pernah berkata:
"Ada dua kaedah berdzikir iaitu yang kuat dan yang senyap. Saya memilih yang senyap kerana ia mempunyai kesan yang lebih mendalam." Kerana inilah, kaedah dzikir secara senyap merupakan ciri yang khusus bagi Tariqat Naqshbandiyya yang membezakannya daripada lain-lain tariqat. Walaupun Abu Bakr as-Siddiq dan Shah Naqshband memilih dan cenderung kepada kaedah dzikir secara senyap, mereka tidak pernah mengkritik kaedah dzikir secara kuat.
Shah Naqshband telah menunaikan fardhu haji sebanyak 3 kali. Selepas itu beliau menetap di Merv dan Bukhara. Di penghujung hidupnya dia kembali ke tempat kelahirannya, kota Qasr al-Arifin. Ajarannya menjadi buah mulut orang ramai dan dan namanya meniti dari bibir ke bibir. Pelawat daripada jauh datang untuk menziarahi dan belajar dan mendapatkan nasihat daripada beliau. Murid-muridnya menimba ilmu didalam madrasah dan masjid yang dapat memuatkan 5000 orang dalam satu-satu masa yang dibina oleh beliau. Madrasah ini merupakan pusat pengajian Islam yang terbesar di Asia Tengah. Bangunan ini terus berdiri tegak hingga sekarang walaupun telah melalui zaman pemerintahan Komunis selama 70 tahun. Sekarang kerajaan tempatan mula memperbaiki dan menjaga bangunan tersebut.
Ajaran Shah Naqshband telah memberi cahaya kedalam hati-hati murid-muridnya yang selama ini berada di dalam kegelapan. Beliau mengajar anak muridnya mengenai Keesaan Allah yang mana bidang ini menjadi bidang kepakaran Imam-imam Tariqat ini yang datang sebelum beliau. Beliau menekankan kepada anak muridnya tentang peri pentingnya untuk merealisasikan maqam al-Ihsan berdasarkan kepada hadith Rasulullah (s.a.w), "Ihsan ialah menyembah Allah seperti kita dapat melihatNya..."
Semasa beliau sakit di saat-saat penghujung hidupnya, beliau mengunci dirinya didalam sebuah bilik. Murid-muridnya datang menziarahi beliau tanpa henti-hentinya dan beliau memberi kepada mereka apa yang mereka perlukan. Pada satu ketika beliau telah menyuruh anak-anak muridnya membaca surah Yaasin. Setelah mereka selesai membacanya, beliau mengangkat tangan dan terus berdoa.Seterusnya beliau mengangkat jarinya sambil membaca kalimah syahadah. Setelah selesai membaca kalimah tersebut, ruh beliau pergi meninggalkan jasad untuk kembali ke hadrat ilahi,pada malam Isnin tahun 1388 masihi. Beliau dikebumikan didalam tamannya, seperti yang beliau wasiatkan. Raja-raja yang memerintah Bukahara selepas itu, menjaga serta membesarkan madrasah dan masjid yang telah beliau bina dan menambahkan jumlah wang waqaf bagi pemeliharaan dan kegunaan madrasah tersebut.
Shaykh-shaykh Tariqat Naqshbandi yang datang selepas Shah Naqshband telah banyak menulis tentang riwayat hidup beliau. Antaranya ialah Masoud al-Bukhari dan Sharif al-Jurjani yang menulis Risala Bahaiyya yang menerangkan secara terperinci mengenai kehidupan dan ajaran serta fatwa-fatwa yang telah di keluarkan oleh Shah Naqshband. Shaykh Muhammad Parsa yang meniggal di Madinah pada tahun 1419 menulis Risala Qudsiyya. Karya ini menceritakan mengenai kelebihan dan kesolehan serta ajaran-ajaran Shah Naqshband.
Banyak karya-karya yang telah ditinggalkan oleh Shah Naqsband untuk generasi selepas beliau. Antaranya termasuklah, al-Awrad al-Bahaiyya, Amalan-amalan Shah Naqshband, Tanbih al-Ghafilin Maslakul Anwar dan Hadiyyatus Salikin wa Tuhfat at-Talibeen. Dia juga telah menulis puji-pujian buat Rasulullah (s.a.w) dan mengeluarkan banyak fatwa pada zamannya. Antara pendapat beliau ialah, kesemua amalan dan kaedah penyembahan, samaada yang wajib ataupaun yang sunat, adalah dibenarkan untuk dilakukan bagi mencari dan mencapai haqiqat. Solat, puasa, zakat dan sedekah,berdzikir dan mnyebut nama-nama Allah, memerangi nafsu (mujahadatunnafs)dan kehidupan zuhud, merupakan kaedah-kaedah yang diutamakan agar seseorang murid itu, dapat sampai ke hadrat Ilahi. (Lihat 11 rukun Tariqat Nashbandi).
Shaykh Nazim al-Haqqani, Pemimpin Tariqat Naqshbandi pada masa ini, semasa menziarahi makam Shah Naqsband. Mufti Uzbekistan sedang memberi beliau segelas air daripada telaga air Shah Naqshband.
Shah Naqshband telah membina madrasah beliau untuk memperbaharui dan mengembalikan obor Islam bagi ummat Islam dizamannya untuk menghayati ajaran Islam sebagai cara hidup mereka. Beliau menekankan tentang pentingnya berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-sunnah Rasulullah (s.a.w). Anak muridnya pernah bertanya kepada beliau:
"Apakah yang kami perlukan untuk mengikuti jalan Tuan?" Beliau menjawab, "Mematuhi dan menghayati jalan dan cara hidup Rasulullah (s.a.w) dengan penuh kecintaan."
Beliau menyambung lagi, "Jalan kita merupakan jalan yang jarang ditemui, kerana ia berpegang kepada Al-Urwatul Wuthqa, iaitu ikatan yang tidak boleh diputuskan. Jalan ini,tariqat ini hanya menghendaki pengikutnya, memegang pada jalan yang telah dilalui oleh Rasulullah (s.a.w) - jalan yang suci lagi terpelihara - dan jalan yang dilalui oleh pengikut dan para sahabat baginda (s.a.w) di dalam perjuangan kita untuk menuju ke hadrat ilahi - mengenal hakihat ketuhanan."
Kehidupan Shah Naqshband amatlah zuhud. Beliau amat mementingkan kehalalan makan yang beliau makan. Beliau memakan roti daripada barli yang beliau tanam dan tuai sendiri. Beliau amat mencintai para fakir miskin dan selalu memasak dan melayan mereka serta menziarahi mereka apabila mereka sakit. Sebenarnya beliau seorang yang kaya dan suka membelanjakan hartanya semata-mata pada jalan Allah, bukan untuk diri atau keluarga. Sifat beliau yang pemurah itulah yang menyebabkan beliau amat dicintai dan sifat kedermawanannya sentiasa menjadi buah mulut orang ramai.
Shah Naqsband pernah berkata:
"Tariqat Naqshbandi ini, merupakan jalan yang paling mudah dan senang bagi seorang murid untuk memahami tentang Tauhid.Ia bebas daripada bida'ah ataupun sebarang peyimpangan dan perbuatan yang ekstrim (shaathiyyat) ataupun tarian dan sebutan yang sukar untuk difahami (sama'a). Ia tidak meminta muridnya untuk sentiasa berlapar ataupun berjaga sepanjang malam.Oleh kerana sifat-sifat inilah, Tariqat Naqshbandiyya tetap bebas daripada mereka yang jahil ataupun penipuan (mushawazeen). Kesimpulannya, kita pula mengatakan bahawa tariqat kita ini merupakan ibu bagi tariqat-tariqat lain dan penjaga amanah kerohanian. Jalan ini adalah jalan yang paling selamat, berhikmah, dan jelas. Ia umpama telaga air yang daripadanya dapat diminum air yang suci dan amat bersih. Sehingga kini Tariqat Naqshbandiyya bebas daripada ancaman ataupun serangan daripada mana-mana pihak keran ia berpegang teguh pada As-sunnah Rasulullah (s.a.w)- jalan yang terpelihara lagi diredhai.

SILSILAH TAREKAT NAQSYABANDIYAH :
1. MUHAMMAD RASULLULLAHHU ALAIHI WASSALAM PENGHULU
SELURUH ALAM.BELIAU MENUMPAHKAN RAHSIA INI KEPADA;
2.ABU BAKAR AS-SIDIQ RADIALLAHUAN.
3, SALMAN AL-FARISY RADIALAHHUAN KEMUDIAN KEPADA;
4. QASIM BIN MUHAMMAD B.ABU BAKAR AS-SIDIQ R.A,
5. IMAM JAAFAR SIDIQ R.A,
6. ABU YAZID BUSTAMI R.A,
7. ABU HASSAN KHARQANI R.A,
8. ABU ALI FRMADY R.A,
9. SHEIKH YUSUF HAMDANI QADASSALLAH,
10. SHEIKH ABD.KHALID FAJADUANI,Q.S
11. SHEIKH ARIF RIYAU GHARI Q.S,
12. SHEIKH MAHMUD ANJARI A.S,
13. SHEIKH ALI RAMATHANI Q.S,
14. SHEIKH MUHAMMAD BABUSSAMASI,
15. SHEIKH AMIR KULALI,
16..SHEIKH BAHAUDIN SHAH NAQSABANDI,
17. SHEIKH MUHAMMAD ALAUDDIN A'THARI,
18. SHEIKH YAAKUP CHARKI,
19..SHEIKH ABDULLAH AHRARI SAMAR QANDI,
20. SHEIKH MUHAMMAD ZAHIDI,
21. SHEIKH DARWIS MUHAMMAD,
22. SHEIKH MUHAMMAD KHAUJAKI AMKANAKI,
23. SHEIKH MUHAMMAD BAQI BILLAHI,
24. SHEIKH MUHAMMAD FARUQI SARHINDI,
25. SHEIKH MUHAMMAD MAKSOM,
26..SHEIKH SHAIFUDIN,
27..SHEIKH NUR MUHAMMAD BADAWANI,
28. SHEIKH SHAMSUDIN HABIBULLAH JAN JANANI,
29..SHEIKH ABDULLAH DAHLAWI,
30..SHEIKH MAULANA KHALID QARDI,LAHIR 1193 WAFAT 1239H,
31..SHEIKH ABDULLAH AFANDY,
32. SHEIKH SULAIMAN QARIMI,
33..SHEIKH SULAIMAN ZUHDI,MENETAP DI MAKKAH (JABAL QUBIS),
34.SHEIKH ABD WAHAB ROKAN AL-KHOLIDI,YANG MENETAP DI TANJUNG PURA (LANGKAT),SUMATERA UTARA,INDONESIA YANG MENYEBARKAN KE SELURUH ASIA.


DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. wali sufi jilid 2
Comments:
aku hanya ingin tau sejauh mana toriqot itu dalam kajian tasawuf
 
sangat bagus sekali, sebagai pengamal thoriqoh ini aku butuh pengetahuan sejarah silsilah ini
 
Post a Comment

<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?